Seorang etnografer sering mengumpulkan data melalui pengamatan langsung dan berbagai percakapan sambil lali, seperti percakapan antar teman atau sahabat. Etnografer biasanya melakukan wawancara tanpa diketahui atau tanpa disadari oleh informan dengan sekedar melakukan percakapan biasa, tetapi dalam percakapan itu etnografer memasukkan beberapa pertanyaan etnografis. Menurut Spradley, wawancara etnografis itu percakapan hangat antara peneliti dan narasumber yang di dalamnya peneliti secara perlahan memasukkan unsur pertanyaan inti agar narasumber memberikan jawaban yang diinginkan peneliti.

Menurut sumber lain, wawancara mendalam ini didefinisikan sebagai penggalian informasi dari peneliti terhadap informan yang dilakukan dalam waktu yang cukup lama sehingga terjalin hubungan akrab. Ciri khasnya dari wawancara mendalam ini adalah penggunaan waktu yang relatif lama dan dilakukan berkali-kali. Setiap wawancara hendaknya dimulai dengan pendahuluan, isi, dan penutup. Pendahuluan berfungsi sebagai membentuk suasana, isi adalah materi wawancara itu sendiri, sedangkan penutup adalah penyimpulan. peneliti hendaknya menciptakan suasana yang harmonis dalam percakapan dan tidak mendominasi percakapan. Peneliti yang baik adalah mereka yang menjadi pendengar yang baik. Teknik wawancara maupun observasi perlu diperhatikan. Dalam hubungan ini wawancara mendalam sejajar dengan observasi.  Menurut Black dan Cahmpion (1999:305) wawancara melibatkan tiga faktor utama yaitu a) kualitas pewawancara, b) kualitas yang diwawancarai, c) permasalahan yang diteliti. Untuk mempererat hubungan erat dan akrab yang telah disinggung sebelumnya, sebelum wawancara perlu didahului langkah-langkah berikut: a) perkenalan, meliputi nama, institusi, dan sebagainya, b) manfaat dan tujuan penelitian, c) penjelasan mengapa ia dipilih sebagai informan, d) bahwa wawancara sifatnya rahasia, dan e) bahwa hasil penelitian nantinya diharapkan membawa kontribusi bagi masyarakat pada umumnya.

Sumber acuan:

  • Spradley, James P. 2006. Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wacana
  • Ratna, Nyoman Kutha. 2010. Metodologi Penelitian Kajian Budaya dan Ilmu-Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.