Tubuh dari perspektif antropologi menjadi bidang yang menarik untuk dikaji dan diteliti. Berbagai teori dan tokoh yang memberi perhatian pada kajian tubuh banyak bermunculan. Dalam hubungannya dengan ekonomi, tubuh mengalami pembagian-pembagian atau segmentasi, begitu juga dengan ekonomi itu. Segmentasi yang dimaksud adalah pembagian dalam sebuah struktur. Mike Featherstone dalam The Body: Social Process and Cultural Theory mengutip pernyataan Pierre Bourdieu bahwa sebuah golongan budaya yang mengarah ke alam akan membantu untuk membentuk pembagian kelas pada tubuh.

Masyarakat dalam kehidupan sosial budayanya tentu terdiri dari segmentasi ekonomi yang berbeda-beda, ada yang dari kelas ekonomi atas, menengah, dan bawah. Pola yang berhubungan dengan tubuh adalah pola konsumsi makanan dan gaya hidup dari masing-masing kelas ekonomi. Dua macam hubungan itu akan berpengaruh pada tubuh mereka secara fisik. Langsung saja kepada contoh, umumnya pada segmen ekonomi atas, makanan mereka pada umumnya berupa makanan bergizi dan ada pula makanan cepat saji. Karena mereka memiliki kemampuan untuk mendapatkan makanan yang baik gizinya dan disibukkan dengan runtinitas sehingga kurang terjaga pola makannya, tentu mereka memiliki bentuk tubuh yang memiliki lemak yang berlebihan atau tubuh gemuk. Gaya hidup mereka pun berpengaruh pada tubuh, yaitu contohnya makanan cepat saji yang dengan mudah mereka nikmati karena rasa ‘gengsi’. Akibat terlalu sering mengonsumsi makanan cepat saji yang cenderung kurang baik bagi tubuh, akhirnya berdampak pada tubuh yang berlemak banyak dan kolesterol. Pekerjaan mereka pun tidak banyak menuntut tubuh untuk bergerak, akibatnya tubuh banyak menyimpan lemak dan kolesterol.

Pada ekonomi kelas menengah pun yang saya amati, tidak jauh berbeda dengan pola konsumsi dan gaya hidup kelas ekonomi atas. Namun, pada kelas ekonomi menengah itu tidak terlalu signifikan dengan masyarakat ekonomi atas yang telah disebutkan. Pada segmen masyarakat ekonomi kelas bawah terlihat signifikan berbeda. Menurut yang saya amati, mereka yang kurang mampu untuk menjangkau makanan yang bergizi pada akhirnya mengonsumsi makanan seadanya bahkan ada yang tidak makan karena tidak mampu untuk membeli makanan yang layak. Tentu ini berpengaruh pada tubuh mereka yang kurus, namun ada pula yang biasa-biasa saja. Tubuh anak-anak banyak yang menjadi korban dalam kondisi ini, banyak yang mengalami penyakit busung lapar yang ditandai dengan perut mereka yang buncit tidak normal. Di kalangan orang dewasa, banyak yang mudah terserang penyakit karena makanan dan gaya hidup mereka di lingkungan kumuh dan tidak sehat. Meskipun pekerjaan mereka umumnya menuntut tubuh untuk bergerak.

Dari pernyataan Bourdieu sebelumnya, golongan atau kelas budaya yang mengarah ke alam akan membentuk kelas atau segmen pada tubuh. Golongan atau kelas budaya yang dimaksud dalam paper ini adalah segmentasi ekonomi yang berhubungan tubuh secara fisik. Dari fakta sosial yang teramati, segmentasi ekonomi masyarakat dari berbagai kalangan berhubungan dengan tubuh mereka seperti yang telah disebutkan. Pola makan dan gaya hidup dari segmen ekonomi adalah cara bagaimana segmentasi ekonomi dan tubuh itu berelasi. Masih banyak contoh detail dan spesifik lain juga yang menjelaskan relasi segmen ekonomi dengan tubuh. (Adwi N. Riyansyah)

Referensi:

Featherstone, Mike, dkk. 1991.  The Body: Social Process and Cultural Theory. London: Sage Publications

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.