Cirebon merupakan salah satu wilayah di pantai utara Jawa Barat yang terkenal akan wisata religi Islamnya di wilayah Indonesia. Tidak hanya wisata religi saja, seperti makam Sunan Gunung Jati, masjid Panjunan, masjid Agung Sang Cipta Rasa, tetapi juga kini tengah membangun wisata budaya, wisata kuliner, dan wisata khusus batik. Daerah ini banyak sekali memiliki culture performance yang tidak saja visualistis, tapi juga spiritualistis mikro yang tidak ada habisnya dan menjadi tradisi hidup bagi masyarakat Cirebon ( Sulendraningrat, 1978). Namun, dalam tulisan ini saya membahas salah satu wisata religi-budaya yang menjadi andalan kota ini tiap tahunnya dan menjadi ciri khas kota yang terkenal dengan sejarah salah satu dari sembilan penyebar agama Islam di Jawa (Walisanga) yaitu Sunan Gunung Jati. Mengapa religi-budaya. Karena dari pengamatan langsung maupun dari sumber-sumber pustaka yang ditemui, agama Islam dan budaya Cirebon dalam tradisi ini tidak dapat dipisahkan dan tidak hanya pada panjang jimat saja tetapi juga tradisi keraton dan tradisi rakyat lainnya.

Panjang Jimat di Kraton Kasepuhan Cirebon

Kebudayaan di wilayah Cirebon dari berbagai tulisan yang ditemui banyak yang menganggap sebagai percampuran antara kebudayaan Jawa dengan Sunda (Humaedi, 2013). Tetapi menurut pengamatan terhadap kultur di Cirebon, sebenarnya tidak hanya pengaruh dua kebudayaan itu saja. Apabila kita melihatnya lebih detail, kultur Cirebon juga banyak dipengaruhi kebudayaan Arab, Cina, Melayu, dan bahkan Betawi. Banyaknya campuran atau pengaruh dari kebudayaan tersebut dikarenakan oleh masyarakat Cirebon yang terbuka dan letak geografisnya di wilayah pesisir, sehingga banyak pedagang dari luar pulau yang singgah dan memberi warna kebudayaan di Cirebon. Banyaknya pengaruh atau campuran dari berbagai kebudayaan itulah yang melahirkan suatu kebudayaan yang khas, yaitu budaya Cirebon yang Caruban atau campuran. Bentuk-bentuk pengaruh itu dapat kita simak pada kultur Cirebon pada masyarakat kebanyakkan karena mungkin mereka inilah yang sering melakukan kontak kebudayaan dengan para pedagang asing pada waktu dulu daripada kalangan kesultanan Cirebon.

Masyarakat Cirebon pada abad ke 15 memiliki pemerintahan klasik berupa kesultanan. Sebagai pusat pemerintahan dan kekuasaan pada masa lalu, tentu akan memberi pengaruh kepada masyarakatnya hingga kini. Apalagi istana-istana kesultanan masih berdiri sampai sekarang ini. salah satu tradisi keraton yang mendapat apresiasi luar biasa dari masyarakat adalah upacara tradisi Panjang Jimat. Dalam tulisan ini akan dijelaskan dan dikembangkan tradisi tersebut menjadi daya tarik wisata religi-budaya andalan.

Sejarah dan Pengertian Tradisi Panjang Jimat

Inti dari upacara tradisi panjang jimat ini adalah sebenarnya sebagai peringatan maulid Nabi Muhammad s.a.w (kelahiran nabi) yang dilakukan setelah beliau wafat. Setelah beliau wafat barulah umat Islam di seluruh dunia mengadakan upacara peringatan maulid nabi, termasuk di Cirebon. Tradisi panjang jimat diadakan oleh sultan-sultan Cirebon sebagai peringatan kelahiran nabi, sebagai ungkapan rasa hormat atau takdimnya kepada nabi Muhammad dari para sultan tiap tanggal 12 Robi’ul Awal dalam kalender Islam. Kini, pelaksanaan panjang jimat dilakukan di tiga keraton Cirebon yaitu keraton Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan. Tradisi ini dirintis oleh Sunan Gunung Jati. (Sulendaningrat, 1978)

Dari sumber yang didapat, upacara panjang jimat mengandung beberapa pengertian. Pertama, kata “Panjang” artinya terus menerus diadakan, yaitu satu kali dalam setahun. “Jimat”, berarti dipuja-puja di dalam memperingati hari lahir Nabi Muhammad s.a.w itu. Kedua, panjang jimat, sebuah piring besar yang berbentuk elips atau bundar, terbuat dari kuningan dan porselen. Panjang jimat bagi Cirebon mempunyai sejarah khusus yaitu salah satu benda pusaka kesultanan Cirebon ialah merupakan sebuah pemberian dari Sang Hyang Bango ketika masa pengembangan dari Raden Walangsungsang (Pangeran Cakrabuana) dalam mencari agama Islam. Maka besar kemungkinan inilah sebabnya masyarakat menyebut iring-iringan panjang jimat, piring panjang jimat di keraton Kanoman dan pendil jimat di keraton Kasepuhan. Ketiga, saat turunnya atau keluarnya panjang jimat ini sebagai penggambaran lahirnya sang bayi, jadi sebenarnya bahwa upacara tradisi ini memiliki falsafah yang tinggi dan erat sekali dengan hubungannya di kala masa itu dengan syi’ar Islam.

Tradisi panjang jimat menampilkan penggambaran seorang sosok nabi Muhammad s.a.w lahir dan penggambaran seorang ibu bersalin, walaupun dalam panjang jimat wujud sang bayi dan ibunya tidak ditampilkan. Tradisi ini menekankan pelajaran adat yang mengandung cerita maulid nabi Muhammmad.

Pelaksanaan Panjang Jimat

Pada bagian ini dibahas berjalannya tradisi panjang jimat di keraton Kasepuhan, karena di keraton tersebut paling banyak pengunjungnya saat tradisi tersebut dilaksanakan. Pada tanggal 12 Rabi’ul Awal malam, bakda Isya dilakukan upacara menurunkan panjang jimat oleh petugas dan ahli agama di lingkungan dan kerabat kesultanan diadakan Sesrana, di bangsal/bangsal Dalem, disajikan nasi Rasul sebanyak tujuh golong, tiap golong ditempatkan di atas Tabsih atau piring besar. Orang yang melakukannya adalah Nyi Penghulu dan Nyi Kaum yang disaksikan oleh para Ratu Dalem. Di belakang bangsal dalem juga disajikan air mawar, kembang goyah, serbad boreh (parem), dan hidangan tumpeng empat di empat panggung atau anggar, yang berisi aneka kue dan empat dongdang berisi masakan. Dilakukan oleh Nyi Kotib Agung, Nyi Kaun dengan disaksikan oleh para famili keraton.

Sedangkan di bangsal Prabayaksa dan bangsal Pringgandani, yaitu di sebelah utara bangsa Dalem diperuntukkan bagi para undangan, di tengah ruangan ini dilowongkan untuk deretan upacara, terus dari Jinem ke Srimanganti di sebelah timur Taman Andaru menuju ke utara sampai ke teras Langgar Agung, dipagari oleh orang-orang Kemantren yang membawa tombak Ekasula, Dwisula, Trisula, dan Catursula di kiri kanan jalan. Sedangkan di Kaputren, yaitu yang letaknya di sebelah barat bangsal Dalem berkumpul para Sentana Wargi (nayaka) Singkang dan bagian para Kemantren. Adapun 28 orang Kaum duduk bersila di Prabayaksa arah sudut barat-daya, di bawah relief Kembang Kanigaram, Bangwari Wong.

Setelah tamu cukup lengkap sesuai dengan daftar yang diundang oleh Sultan, maka upacara turunnya Panjang Jimat segera dimulai. Sultan beserta permaisurinya juga telah hadir pula di tengah-tengah para tamu dengan memakai pakaian adat keraton. Biasanya sambil menunggu keluarnya Panjang Jimat dihidangkan makanan ringan oleh petugas keraton kepada para tamu undangan. Apabila Sultan telah merestui, kemudian penghulu keraton dan para kaum naik ke bangsal, petugas khusus memanggil barisan sentana yang terdiri dari 14 orang berdiri, masing-masing di sebelah kiri dan kanan dan ketika itu lilin segera dinyalakan, maka mulailah petugas ahli mengatur jalannya upacara.

Kemudian penghulu turun dari bangsal Dalem dan di belakangnya berturut-turut turun Panjang Jimat tujuh buah. Tiap-tiap Panjang diusung oleh empat orang kaum dan didampingi di kiri-kanan masing-masing dua orang sentana menuju langgar kraton. Pada pukul 24.00, Panjang Jimat kembali dari langgar kraton menuju ke dalam kraton lagi dengan melalui pintu sebelah barat menuju Keputren, maka berakhirlah upacara Maulid Nabi atau Panjang Jimat di Kraton Kasepuhan (Sulendraningrat, 1978). 

Panjang Jimat sebagai Daya Tarik Wisata Religi-Budaya

Banyak masyarakat yang menghadiri tradisi ini, baik itu masyarakat umum ataupun para undangan kraton. Jumlahnya mencapai ribuan pengunjung di keraton-keraton Cirebon. Masyarakat umum yang hadir ini berasal dari berbagai wilayah di sekitar Cirebon. Mereka datang begitu antusias ingin menyaksikan jalannya proses panjang jimat ini. Namun, masyarakat umum yang bukan undangan hanya dapat menyaksikan tradisi ini di luar bangsal keraton karena hanya para undanganlah yang dapat masuk ke bangsal saja. Upacara Panjang Jimat ini dilakukan serentak di tiga keraton sehingga suasana kota di sekitar wilayah keraton ramai akan wisatawan yang mengunjungi keraton-keraton tersebut. Ramainya wisatawan yang memadati kota Cirebon saat Panjang Jimat ini berlangsung akan menambah pendapatan daerah melalui penuhnya hotel-hotel saat malam Panjang Jimat, banyakknya moda transportasi yang masuk ke Cirebon, dan penuhnya tempat-tempat makanan tradisional khas Cirebon untuk pengunjung yang datang di sekitar keraton. Apalagi ditambah cuaca malam saat proses Panjang Jimat yang jarang sekali bahkan belum pernah turun hujan, sehingga menambah banyaknya pengunjung yang datang ke Cirebon. Adapun pada tahun kemarin, 2013, sempat hujan, namun berhenti ketika Panjang Jimat keluar. Bagi pemerintah kota Cirebon memang sampai saat ini belum memaksimalkan tradisi Panjang Jimat ini menjadi wisata religi-budaya. Perlu diadakan pengembangan terhadap tradisi Panjang Jimat sebagai daya tarik wisata yang mampu menarik wisatawan yang luar biasa. Bisa melalui dengan ditambah dengan peningkatan layanan akses transportasi menuju Cirebon, ditambahkannya hotel-hotel yang menyediakan akomodasi bagi wiasatawan yang berasal dari luar kota, disediakannya rumah-rumah makan yang menyediakan kuliner Cirebon sehingga wisatawan betah untuk berwisata ke Cirebon. Selain itu, juga perlu dibenahinya infrastruktur dan ketertiban di wilayah kota Cirebon sehingga menjadi nilai positif bagi pemerintah dan masyarakat. (Adwi N. Riyansyah)

Sumber:

  • Sulendraningrat, S. 1978. Sejarah Cirebon. Jakarta: Depdikbud
  • Humaedi, M. Ali. Budaya Hibrida Masyarakat Cirebon. Jurnal Humaniora, volume 25, tanggal 3 Oktober 2013

Internet:

 Sumber gambar: wonderfulcirebon.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.