Ini adalah suatu tulisan deskripsi singkat mengenai prinsip hidup orang Minahasa, Tulisan ini bersumber dari buku berjudul Si Tou Timou Tumou Tou : Peranan Manusia Minahasa dalam Pembangunan Nasional (1991) yang ditulis oleh E.K.M. Masinambow, Geraard Paat, A.J. Sondakh, dan diterbitkan oleh Kerukuan Keluarga Kawanua. Si Tou Timou Tumou Tou ialah suatu ungkapan filosofis yang dalam dan menjadi sebuah “quote” terkenal dari seorang tokoh Minahasa yang sekaligus menjadi pahlawan nasional yaitu DR. G.S.S.J (Sam) Ratu Langie. Pada saat buku tersebut ditulis sempat disinggung tentang keadaan diri orang Minahasa. Dikatakan bahwa terjadi pelunturan jati diri orang Minahasa yang ditandai dengan jarangnya mereka menggunakan bahasa daerah subsuku di pedesaan. Selain itu, sifat-sifat kepribadian umum Minahasa yang kebersamaan, tolong-menolong, taat dan disiplin yang biasa disebut Mapalus atau Maendo semakin luntur. Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ungkapan persatuan, kasiang, saling membantu dan lain-lain hanya tertinggal sebagian kecil saja dan lainnya hanya slogan semata. Kemudian, orientasi kejiwaan Minahasa yang sudah konsumeristik, hedonis, dan feodalis. Oleh sebab itu, masalah  tersebut harus dipecahkan dengan keturutsertaan dan pembangunan orang Minahasa sebagian bagian manusia Indonesia ke arah pengembangan nilai-nilai jati diri yang positif dan kondusif bagi peningkatan peran sertanya. Dalam prinsip hidup Si Tou Timou Tumou Tou ini mengandung anasir luhur tentang jati diri, sosok manusia Minahasa/Kawanua yang ideal apabila ia dapat memanusiakan manusia yang lain.

Prinsip hidup tersebut sebagai pandangan hidup yang mengarahkan kehidupannya dalam berperanserta membangun kehidupan bertanah air yang berkualitas.  Prinsip hidup ini dapat dimaknai bahwa manusia Minahasa ini adalah manusia yang religius dengan dikenalnya Opo Empung (Tuhan Maha Yang Esa) atau Opo Wailan (Tuhan Yang Maha Kaya), dan Opo Wananatas (Tuhan Maha Tinggi). Guna memahami masyarakat dan budaya Minahasa hendaknya dipahami sebagai suatu kesatuan yang majemuk yang terdiri atas beberapa unsur, termasuk unsur lokal dan asing yang menjadi bagian kesatuan masyarakat Minahasa. Prinsip Si Tou Timou Tumou Tou ini sebagai sebagai bentuk masyarakat Papendangen yang berarti ajar, atau masyarakat Minahasa itu adalah suatu masyarakat yang selalu ingin menimba ilmu dan pengetahuan atau saling membuat diri pandai. Manusia Minahasa dari religi ini, saya menangkap bahwa manusia Minahasa sejak dahulu merupakan manusia religius. Hal ini dapat dihubungkan dengan cerita Toar dan Lumimuut yang merupakan ungkapan imajinasi tentang diri manusia. Sedang cerita Alkitab tentang manusia pertama mendorong keperenungan diri dalam relasi dengan Allah. Cerita Toar dan Lumumuut ini kemudian disikapi religius karena menuturkan Kareima sebagai imam wanita yang mebuat perubahan mendasar dalam kehidupan Lumimuut.

 Manusia Minahasa bila ditinjau dari linguistik, wilayah Minahasa ini terdiri dari berbagai bahasa daerah dari subsuku, seperti bahasa Tombulu, Toulour, Tonsea, Tontemboan, Tonsawang, Bantik, Ponosakan dan Ratahan. Selain itu, bahasa-bahasa Minahasa ini memiliki pertalian antara bahasa yang satu dengan yang lain. Seperti bahasa Ponosakan yang mempunyai pertalian dengan bahasa Mongondow. Ada permasalahan terkaitan pelestarian bahasa-bahasa Minahasa, yaitu rasa malu dari kaum muda karena bila menggunakan bahasa derah itu dicap ‘kampungan’. Juga ditambah pula karena ada dualisme bahasa pemersatu suku di Sulawesi Utara yaitu bahasa Melayu Manado dan bahasa Indonesia. Jadi, kebanyakkan orang Minahasa ini menggunakan bahasa Melayu Manado atau bahasa Indonesia daripada menggunakan bahasa daerahnya sendiri.

Manusia Minahasa mengandung pengertian bahwa mereka memiliki pandangan hidup, pengetahuan, perangkat nilai, dan norma yang semuanya tercermin pada perilaku dan tindakannya. Peradaban Minahasa pun dipengaruhi oleh peradaban Barat (Eropa) yang disesuaikan dengan nilai dan normanya. Pengaruh dari Barat tercermin dari gereja sebagai tempat ibadah agama. Dari gereja ini memberi pengaruh pada kehidupan rohani dan pendidikan orang Minahasa sehingga membentuk suatu peradaban. Dalam tinjauan yang global, manusia Minahasa ini memiliki karakteristik fisik umum sebagai ciri khas orang Minahasa, yaitu penampilan mereka yang terlihat campuran dari berbagai bangsa, sehingga dapat kita temukan ada orang Minahasa yang mirip dengan orang Eropa. Kepribadian mereka pun ditunjukkan dari sisi gotongroyong, kebangaan, disiplin, tegur-sapa, dan keimanan. Identitas dan karakter orang Minahasa ini memiliki implikasi bagi pembangunan nasional. Karakter itu adalah netral yang berarti karakter orang Minahasa itu yang tidak mengganggu dan serasi artinya sesuai dengan karakter nasional. Kemudian karakteristik yang tidak serasi, artinya karakter yang tidak sesuai dan mengganggu karakteristik nasional. Perihal ungkapan Si Tou Timou Tumou Toi ini ini perlu adanya solusi untuk dikaji agar manusia Minahasa sebagai bagian integral Indonesia dapat sepenuhnya menjalankan makna ungkapan tersebut.

Acuan sumber

Masinambow, E.K.M., Geraard Paat, A.J. Sondakh. 1991.
Si Tou Timou Tumou Tou : Peranan Manusia Minahasa dalam Pembangunan Nasional. Jakarta: Kerukunan Keluarga Kawanua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.