Artikel yang saya review ini merupakan tulisan dari dosen dan guru besar antropologi budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, yaitu Heddy Shri Ahimsa-Putra, Prof., Dr., M.A.,M.Phil. Pada artikel yang ditulisnya, berisi uraian-uraian tentang etnosains dan etnometodologi. Menurut beliau, dua aliran ini merupakan hal yang baru dalam ilmu sosial. Etnosains atau juga disebut “Etnografi Baru” (The New Etnhnography) muncul dalam antropologi, sedangkan etnometodologi muncul dalam sosiologi. Sebenarnya dalam ilmu antropologi dan sosiologi kedua aliran ini bukanlah aliran yang baru. Ada persamaan dan perbedaan pada kedua aliran ini. Namun, penulis artikel lebih condong pada membandingkan keduanya agar kita dapat lebih memahami, menerapkan, serta mengembangkannya di Indonesia.

Dalam artikelnya, beliau membicarakan beberapa pokok masalah dari aliran-aliran tersebut. Pertama, penulis mencoba menelusuri akar-akar pemikiran dari dari masing-masing aliran dan beberapa sebab mendorong timbulnya pemikiran tersebut. Selanjutnya, adalah perbandingan metode atau cara analisis etnosains dan etnometodologi. Kemudian, Heddy Shri Ahimsa-Putra juga memaparkan kesamaan dan perbedaan dua aliran tersebut beserta kritik dan hubungannya dengan pendekatan-pendekatan lain.

Dalam ilmu antropologi, etnosains bukanlah hal yang baru. Pada era Malinowski aliran ini dapat terlihat dari membandingkan berbagai macam kebudayaan suku-suku bangsa di dunia untuk mendapatkan prinsip-prinsip kebudayaan yang sifatnya universal. Goodenough mengungkapkan ada tiga masalah pokok dari hal itu, pertama ada ketidaksamaan data etnografi karena perbedaan minat di kalangan antropolog. Kedua, masalah sifat data tersebut yang sejauh mana dapat dibandingkan atau melukiskan gejala yang sama dari masyarakat yang berbeda. Ketiga, ialah soal klasifikasi data berdasarkan kriteria.

Dari hal diatas dapat kita lihat bahwa ada kelemahan dari cara pelukisan kebudayaan yang selama ini dipakai. Kemudian didapat model dari linguistik. Dari linguistik ini kemudian dalam antropologi dikenal pelukisan etik dan emik yang diambil dari fonetik dan fonemik. Dari model ini penulis artikel berharap akan tepat untuk dijadikan studi perbandingan.

Dari penggunaan model linguistik ini, timbul dalam pikiran para antropolog bahwa konsep kebudayaan yang mereka pakai tidak mengandung isi yang sama. Sebagian ahli antropologi mendefinisikan kebudayaan sebagai tingkah-laku manusia dalam masyarakat tertentu; sebagia lagi menafsirkan kebudayaan sebagai keseluruhan tindakan manusia; pikirannya serta hasilnya. Penggunaan model linguistik ini mempunyai implikasi kepada definisi kebudayaan yang selama ini dipakai. Berdasarkan dari implikasi-implikasi terhadap masalah antropologi, kita dapat menggolongkannya dalam tiga kelompok. Secara garis besar, kelompok pertama ditemukan dari mereka yang berpendapat bahwa kebudayaan merupakan bentuk dari sesuatu yang ada dalam pikiran manusia. Kelompok kedua adalah mereka yang mengarahkan perhatiannya pada bidang aturan-aturan (rule). Mereka ini berijak pada definisi kebudayaan sebagai hal-hal yang harus diketahui seseorang agar dapat mewujudkan tingkah-laku bertindak menurut cara yang dapat diterima oleh warga masyarakat di tempat dia berada. Kelompok ketiga, adalah para ahli antropologi yang menggunakan definisi kebudayaan sebagai alat atau sarana yang dipakai untuk “perceiving” dan “dealing with circumtances”, yang berarti alat untuk menafsirkan berbagai macam gejala yang ditemui. Juga dalam kelompok yang ketiga ini memakai landasan teori tentang makna guna mendapatkan tema-tema budaya yang ada.

Etnosains memiliki berbagai sebutan dari para ahli antropologi. Ada yang menyebutnya  sebagai “The New Ethnography”, “Cognitive Anthropology”, “Ethnographic Semantics” dan “Descriptive Semantics”. Berbagai macam istilah tersebut timbul karena masing-masing ahli memberikan penekanan yang berbeda terhadap apa yang dianggap penting. Menurut pernyataan Surtevant, etnosains itu bukannya metode penelitian, melainkan penekanan sistem pengetahuan yang merupakan pengetahuan khas dari suatu masyarakat dan berbeda dari sistem pengetahuan masyarakat lain.

Kemudian pembicaraan beralih pada etnometodologi. Pendekatan ini menurut penulis artikel, Heddy Shri Ahimsa-Putra, dimulai dari filsafat fenomenologi dengan tokoh Husserl. Ia mengembangkan suatu fenomenologi transendental yang berbeda dengan fenomenologi eksistensial. Menurut dari beberapa ahli usaha fenomenologi merupakan upaya untuk menggambarkan kesadaran manusia serta bagaimana kesadaran tersebut terbentuk atau muncul.  Menurut Leiter pandangan inilah yang kemudian menjadi salah satu landasan etnometodologi.

Menurut Husserl kesadaran tersebut mempunyai dua aspek yaitu proses kesadaran dan objek dari kesadaran itu. Kesadaran diarahkan pada bidang kehidupan, dimana merupakan dunia antarsubjek. Artinya manusia saling berhubungan sehingga kesadaran terbentuk di antara memiliki sifat sosial. Berbagai ahli seperti Phillipson, Silverman, dan Dreitzel memberikan pernyataan guna menganalisis dari kesadaran ini.

Pemikiran Husserl lainnya yang menjadi dasar etnometodologi adalah konsepnya tentang natural attitude. Konsep inilah yang menggabungkan filsafat fenomenologi dengan sosiologi. Natural attitude ini disebut juga commonsense reality. Husserl membedakan natural attitude dengan theoretical attitude dan mythical attitudeTokoh lain yang memberikan pemikirannya tentang etnometodologi adalah Alfred Schutz, seorang murid Husserl.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.