Bahasa adalah bagian integral dari budaya suatu kelompok etnik. Karena itu, unsur-unsur budaya seperti aturan, kebiasaan, dan cara hidup kelompok dapat diekspresikan melalui bahasa. Budaya yang dimiliki oleh masyarakat dicerminkan dalam bahasanya sehingga menimbulkan berbagai macam gaya berbahasa yang menjadi ciri penanda masyarakatnya. Keanekaragaman ini pada hakikatnya dapat mempengaruhi komunikasi, terutama komunikasi antarorang yang berlatar budaya dan bahasa yang berbeda. Pengaruh ini dapat menimbulkan kesulitan dan hambatan dalam kelancaran komunikasi pada umumnya. Komunikasi dalam konteks verbal sehari-hari di masyarakat kebanyakkan bersifat lisan sehingga ide yang disampaikan lebih langsung dan nyata atau lebih memiliki sense of communication. Akibatnya, kerjasama antarpartisipan lebih nyata, interaktif secara langsung, bersifat resiprokal, dan proses komunikasi yang terjadi lebih bervariasi, terutama yang berkait dengan prinsip kerjasama, kesantunan, solidaritas, dan negoisasi makna. Kelima sifat komunikasi di atas, dapat teramati secara langsung dan nyata, sebagai contoh kerjasama partisipan tampak dalam nada bicara, gesture, dan tuturan yang tidak lengkap karena kinesik yang menonjol (Suyitno, Iman, 2006).

Dalam komunikasi antaranggota kelompok etnik, terdapat norma-norma atau kaidah-kaidah yang terpelihara dan dipatuhi bersama oleh para anggota masyarakat tutur yang bersangkutan. Norma-norma itu merupakan ikatan yang dihormati bersama sehingga setiap anggota masyarakat merasa terikat oleh norma itu dalam membina kebersamaan dalam hidup bermasyarakat. Setiap anggota masyarakat dalam berperilaku akan selalu memperhatikan dan berpedoman pada norma-norma itu. Hal ini menunjukkan bahwa antara masyarakat dan bahasa tidak mungkin dipisahkan. Keduanya memiliki hubungan timbal balik (Nababan dalam Suyitno, 2006). Dalam kondisi tertentu, bahasa mempengaruhi dan membentuk perilaku atau sikap masyarakat, terutama dalam hal pola pikir, persepsi, dan cara bergaul yang umumnya dikenal dengan pandangan deterministik terhadap bahasa, demikian juga sebaliknya, dalam hal atau kondisi tertentu, justru masyarakat dalam pola pikir, persepsi, dan cara bergaulnya mempengaruhi dan menentukan bahasa, yang umumnya dikenal dengan pandangan instrumentalistik terhadap bahasa (Wahab dalam Suyitno, 2006). Dari pernyataan itu timbul pendapat bahwa bahasa mencerminkan masyarakat dan masyarakat tercermin dalam bahasa (Kartomihardjo, 1987:229 dalam Suyitno, 2006). secara tegas, bahkan Chalika (1982) (dalam Suyitno, 2006) menyatakan bahwa bahasa merupakan cermin sosial. Norma dan nilai yang terdapat di dalam masyarakat terwujudkan dalam bahasa melalui pilihan kosakata, ungkapan, ujaran, dan sebagainya (Kartomiharjo, 1990:17 dalam Suyitno, 2006). Sejalan dengan pembahasan tentang keterkaitan antara bahasa dan budaya, komunikasi antaretnik dalam masyarakat tutur merupakan fenomena yang menarik. Efetivitas komunikasi lisan dapat dikaitkan dengan sejumlah variabel atau komponen komunikasi, yaitu ideologi interpersonal, situasi, hubungan penutur dan mitra tutur, tujuan tutur, dan tingkat keamanan muka penutur atau pun  mitra tutur (Hymes dalam Suyitno, 2006). Oleh karena itu, variabel memiliki kaitan erat dengan pemilihan bahasa yang dilakukan di dalam komunikasi, baik antaretnik ataupun sesama etnik. Pemilihan bahasa ini bersifat mutual, dalam arti bahwa siapa pun yang diajak bicara, pilihan  bahasanya menjadi suatu tuntutan berdasarkan kaidah sosial, psikologis, dan kultural. Dalam masyarakat tutur Cirebon itu, di mana dalam sejarahnya adalah percampuran dari berbagai etnis lalu kemudian membentuk identitas etnisitas yang “baru” ini menjadi suatu yang menarik. Di dalamnya terdapat pola komunikasi yang digunakan antar sesama etnis guna menjalin negoisasi/kompromi, keterikatan batin dan daerah suku-bangsa. Pola komunikasi itu diwujudkan dalam bentuk percakapan dengan sisipan kosakata-kosataka komunikasi yang dimaksud.

Komunikasi masyarakat antaretnik amupun sesama etnik cenderung memanfaatkan pola-pola tertentu dan sangat mempertimbangkan konteks. Dalam komunikasi ini adalah konteks sosial-budaya. Konteks tersebut dimaksudkan adalah siapa mitra tutur, di mana penutur berbicara, bagaimana persaan penutur, bagaimana latar sosial yang ada, dan bagaimana fungsi interaksi pada saat komunikasi antar penutur dan mitra tutur, kesantunan yang mereka gunakan, dan berbagai kaitan sosial yang muncul pada saat komunikasi berlangsung. Performansi penutur dalam melakukan tindak tutur memperhitungkan berbagai faktor sosial budaya yang bersifat lokal. Pemahaman terhadap faktor sosial-budaya dalam tindak komunikasi ini merupakan strategi yang dilakukan penutur agar tuturannya lebih efektif. Dalam aktivitas bertutur atau berkomunikasi, terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi pemilihan bentuk dan ragam tindak tutur. Faktor-faktor tersebut di antaranya adalah latar, partisipan, tujuan, dan konteks tutur. Latar tutur dapat berupa tempat, keadaan psikologis partisipan atau semua hal yang melatari terjadinya peristiwa komunikasi (Saville-Troike, dalam Suyitno, 2006). partisipan tutur adalah semua pihak yang mungkin terlibat dalam peristiwa komunikasi. Konsep partisipan mencakup penutur, mitra tutur, dan pihak ketiga yang biasa muncul dengan tiba-tiba. Sementara itu, tujuan komunikasi adalah maksud yang dikehendaki oleh penutur melalui komunikasinya/tuturannya. Adapun, konteks tutur menurut Halliday dan Hasan (1976) (dalam Suyitno, 2006) adalah teks yang menyertai teks lain. sesuatu yang menyertai teks lain bukan hanya yang dilisankan atau dituliskan tetapi termasuk peristiwa-peristiwa nonverbal atau keseluruhan lingkungan teks itu.

Konteks bersifat dinamis dalam komunikasi yang dilakukan masyarakat lokal karena konteks sangat berbeda antara konteks bahasa yang satu dengan bahasa yang lain. Hal ini tampak dalam suatu kasus, misalnya, suatu instruksi yang sama dan disajikan dalam dua atau lebih bahasa yang berbeda, maka ada perbedaan pengungkapan atau pengekspresian, baik dalam pemilihan kata (diksi) atau panjangnya pesan (Quasthoff dalam Mey, 1996:157). Dalam penggunaan bahasa, konteks dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu (1) konteks fisik yang meliputi kejadian penggunaan bahasa dalam suatu komunikasi, (2) konteks epistemis yang merupakan latar belakang pengetahuan yang sama-sama diketahui oleh partisipan, (3) konteks linguistik yang terdiri atas kalimat atau ujaran-ujaran yang mendahului dan mengikuti ujaran tertentu dalam suatu peristiwa komunikasi atau disebut juga sebagai konteks, dan (4) konteks sosial yang merupakan relasi sosial dan latar yang melengkapi hubungan antara penutur dan mitra tutur (Mey dalam Suyitno, 2006).

Sesuai dengan tujuan tulisan ini, penulis mendeskripsikan dan menganalisis komunikasi yang digunakan oleh masyarakat Cirebon di mana dalam komunikasi ini bertujuan untuk menguatkan solidaritas sosial, kesamaan daerah yang sama, dan solidaritas “agama”. Dalam tulisan ini digunakan pendekatan kualitatif untuk memahami makna gejala dalam pengembangan dan penyusunan teori tentang komunikasi sesama etnik yaitu etnis Jawa Cirebon. Tulisan ini menggunakan landasan teori yang biasa digunakan dalam kajian etnografi. Data yang tersaji pada tulisan ini adalah temuan yang penulis temukan berdasarkan pengalaman dan pengamataan selama penulis yang merupakan bagian dan berasal dari wilayah etnis Cirebon. Selain itu, tulisan ini juga dapat menjadi langkah untuk menginventarisasi kata-kata komunikasi yang khas dari masyarakat Cirebon. Temuan data pada penulisan ini mencakup tiga hal, yaitu (1) sikap komunikasi verbal etnis Cirebon dalam komunikasi sesama etnisnya, (2) sikap komunikasi verbal dalam penyebutan nama Tuhan, dan (3) faktor-faktor yang mempengaruhi sikap komunikasi verbal tersebut. Sebelum berlanjut ke pambahasan etnografi komunikasi etnis Cirebon, lebih baiknya penulis sajikan selayang pandang mengenai komunitas etnis Cirebon beserta budayanya yang khas guna mendapatkan pemahaman yang baik.

Selayang Pandang Etnis Cirebon: Bahasa dan Budayanya

Yang dimaksud etnis Cirebon pada tulisan ini adalah kelompok masyarakat yang menggunakan bahasa Jawa-Cirebon atau biasa disebut bahasa Cirebon yang mendiami kawasan pantai utara Jawa Barat di kota dan kabupaten Cirebon. Asal nama Cirebon ini adalah berasal dari kata caruban yang artinya campuran. Campuran dari berbagai suku-bangsa, karena dahulu pada abad ke 14 dan 15 di wilayah pesisir Cirebon merupakan pelabuhan perdagangan yang ramai oleh pedagang dari berbagai wilayah, seperti Arab, Cina, Melaka, dan India sehingga menjadikan kawasan tersebut sebagai daerah yang bermacam-macam suku-bangsanya dan bercampur dengan penduduk lokal sehingga membentuk masyarakat dengan identitas budaya yang unik dan mandiri yaitu kebudayaan Cirebon. Selain itu, wilayah Cirebon pada masa itu adalah sebagai salah satu pusat syiar Islam di barat pulau Jawa yang dipelopori oleh Sunan Gunung Jati dan menjadikan pula kebanyakkan asal mula kesenian rakyatnnya untuk syiar Islam. Meski kebudayaan Cirebon apabila dilihat dari bahasa dan seninya sangat didominasi oleh campuran budaya Sunda dan Jawa, tetapi apabila dilihat dari dinamika sejarah dan budayanya, budaya Cirebon berbeda dengan budaya “besar” yang mengapitnya yaitu Sunda dan Jawa. Bahasa komunikasi yang digunakan oleh masyarakat ini adalah bahasa Jawa dengan dialek khas Cirebon. Namun saat ini, masyarakat Cirebon lebih senang menyebutnya bahasa Cirebon saja, tanpa ada nama “Jawa”, seakan menjadikan sebagai sub-bahasa.

Bahasa Cirebon pun hampir sama dengan bahasa Jawa yang memiliki tingkatan bahasa berdasarkan status sosial dan umur. Namun tidak seperti bahasa Jawa yang memiliki banyak tingkatan dan batas komunikasi. Di Cirebon, hanya didapati dua tingkatan bahasa saja dalam komunikasi sehari-hari. Pertama yaitu basa bebasan, tingkatan bahasa ini adalah bahasa yang paling halus dan digunakan ketika berbicara kepada orangtua, pemimpin desa, atau kerabat keraton. Kemudian yang kedua, ada  basa padinan/bagongan yang digunakan sehari-hari untuk teman sebaya, baik akrab maupun tidak, atau kepada yang lebih muda. Bahasa Cirebon pun memiliki bermacam-macam dialek yang dapat dibedakan dari kosakata khas, intonasi nada bicara, dan gaya bicaranya. Dialek-dialek itu misalnya, bahasa Cirebon dialek kota Cirebon, dialek Japura, dialek Ciwaringin, dialek Gegesik, dan dialek Palimanan.

Bahasa dapat menjadi cerminan karakter umum masyarakatnya. Begitu juga dengan masyarakat Cirebon. Mereka memiliki sikap terbuka dan tidak terlalu suka berbasa-basi panjang. Hal tersebut pula yang tergambar pada pola komunikasi yang digunakan kepada lawan bicaranya baik sesama etnisnya maupun yang berbeda. Menurut pengamatan penulis yang berasal dari daerah etnis Cirebon, mereka cenderung berkomunikasi secara terus terang dan mengarah pada sifat blak-blakan. Hal tersebut tergambar ketika mereka bertutur untuk menyampaikan rasa tidak senang atau benci, maka mereka akan mengutarakannya langsung tanpa ada basa-basi dahulu atau ke hal-hal yang menyindir kepada lawan bicara (Noer, Nurdin, M., 2009).

Sikap Tuturan Verbal Etnis Cirebon Dalam Komunikasi Sesama Etnik

Pada bagian ini akan dijelaskan cara pengekspresian komunikasi masyarakat Cirebon kepada lawan bicaranya bagi yang telah akrab maupun yang baru dikenal berupa dialog agar lebih mudah memahaminya. Temuan kosakata yang biasa digunakan untuk komunikasi sesama etnis ini adalah wong dewek dan lur. Ekspresi tuturan ini dapat saja ditemui di daerah lain yang masyarakatnya berbahasa Jawa. Dialog komunikasi ini, biasanya digunakan saat situasi santai dan lawan bicaranya itu dapat yang sudah dikenal atau belum, asalkan sesama orang Cirebon dengan umur dan daerah yang sama. Contoh dialog dengan penggunaan kata wong dewek dapat disimak sebagai berikut.

(1) A     : Din, mene manjing. Aja isin-isin kaderan wong dewek kah. (Din, sini masuk. Jangan malu, lagian “orang sendiri”.)
B         : Iya ang, punten ya. (Iya kak, permisi ya.)

Selanjutnya temuan pola komunikasi sesama etnik yang lain yaitu menggunakan kata lur juga dapat disimak dari contoh dialog berikut.

(2) A     : Assalamualaikum, priben kabare lur? (Assalamualaikum, bagaimana kabarnya saudara)
B         : Alhamdulillah yu, isun waras lan sehat kih. (Alhamdulillah, kak (perempuan), saya sehat-sehat saja.)

Pada dialog yang pertama, pengertian wong dewek ini dapat diartikan sebagai orang yang berasal dari golongan yang sama atau dengan kata lain “orang sendiri”. Arti harafiahnya sama dengan bahasa Jawa, namun pada pemaknaannya dalam komunikasi berbahasa Cirebon berbeda dengan bahasa Jawa. Pada dialog kedua, pengertian lur ini asalnya dari kata sedulur, yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah saudara. Di Cirebon, kata lur ini bukan saja digunakan oleh orang-orang yang memang betul saudara, ada hubungan darah, tetapi juga dimaknai orang yang sudah sangat dekat, akrab, atau menyambung dan menjalin hubungan akrab dengan orang lain yang bukan saudara. Selanjutnya, disajikan pula pola komunikasi orang Cirebon yang menunjukkan penyebutan kepada Tuhan.

(3)A      : Sapa Pengeranira? (Siapa Pangeranmu/Tuhanmu?)
B         : Pengeranisun Gusti Alloh. (Pangeran saya/Tuhan saya Allah)

Di Cirebon, kata pangeran yang berasal dari bahasa Jawa ini diartikan sebagai Tuhan dan juga bangsawan keraton yang memiliki kedudukan tinggi. Kata ini apabila disandangkan kepada nama bangsawan maka akan dicantumkan sebelum namanya, misalnya Pangeran Panjunan, Pangeran Kejaksan, dan Pangeran Jayakelana. Namun, jika diartikan untuk sebutan Tuhan, maka kata pangeran ini berdiri sendiri, tidak disandingkan dengan nama Allah. Oleh karena itu, ungkapan Pangeran Allah tidak pernah ditemukan (Muhaimin, 2006:33).

Faktor-faktor yang Mempengaruhi

Pada dua dialog pertama yang disebutkan di awal, pengungkapan kata wong dewek dan lur ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Kedua kata itu diungkapkan ketika suasana santai, tenang, dan tidak dalam keadaan marah. Mitra bicaranya pun tentu ialah sesama orang Cirebon sendiri dan biasanya dengan sesama jenis kelamin dan umur yang sebaya. Dalam kultur Cirebon komunikasi dengan sesama lelaki misalnya, itu mudah terjalin dan bebas, tidak ada jarak sosial yang membatasi. Hal ini dikarenakan adanya aturan agama Islam yang mengatur hubungan komunikasi, utamanya apabila berkomunikasi dengan lawan jenis kelamin. Selain itu, kedua kata itu juga disebabkan sebagai usaha untuk mencairkan suasana dan menjalin hubungan komunikasi dan sosial saat dan setelah percakapan itu dilakukan. Orang Cirebon biasanya menggunakan kata itu untuk mencari kenalan teman baru.

Dialog ketiga adalah pola komunikasi yang berkaitan dengan agama/Tuhan. Masyarakat Cirebon menyebutkan Tuhan itu dalam konteks tradisional itu bukan Alloh sebagaimana umat muslim pada umumnya. Tetapi mereka menyebutnya Pangeran/Pengeran atau Gusti Pangeran. Apabila di Jawa, biasa penulis temui orang-orang Jawa menyebut Gusti saja yang merujuk pada Tuhan. Sampai pada temuan awal ini, penulis belum meneliti lebih jauh mengapa orang Cirebon ini menggunakan kata pangeran ini guna merujuk pada Alloh. Perlu ada pengamatan dan penelitian lanjutan yang lebih mendalam untuk mengupas hal tersebut. (Adwi N. Riyansyah)

Kesimpulan

Berdasarkan dari temuan pengamatan ini, dapat disimpulkan bahwa dalam melakukan tindak tutur atau komunikasi, etnis Cirebon memiliki karakteristik yang khas untuk berkomunikasi dengan sesama etnisnya. Kekhasan karakteristik itu tampak karena dipengaruhi oleh faktor (1) etnik, (2) umur, (3) jenis kelamin, (4) agama Islam, dan (5) nilai budaya. Perlu adanya penelitian yang lebih intens dan mendalam terhadap etnografi komunikasi etnis Cirebon yang berguna untuk pengetahuan akademis dan memperkaya khazanah pustaka tentang ragam komunikasi etnis di Indonesia. (Adwi N. Riyansyah)

Daftar Pustaka Acuan

Muhaimin, A.G. 2006. The Islamic Traditions of Cirebon: Ibadat and Adat Among Javanese Muslims. Canberra: Australian National University E Press
Noer, Nurdin M. 2009. Menusa Cerbon. Kota Cirebon: Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan an Pariwisata
Suyitno, Iman. “Komunikasi Antaretnik Dalam Masyarakat Tutur Diglosik: Kajian Etnografi Komunikasi Etnik Using”. Humaniora. No. 3 Oktober 2006

Sumber gambar: https://marketingland.com/wp-content/ml-loads/2015/10/ss-talk-conversation-speech-bubble-800×450.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.