Para ahli ilmu sosial memiliki pendapat yang berbeda dalam memandang masalah kemiskinan dan orang miskin. Permasalahan sosial ini termasuk yang paling pelik di tiap negara. Hal ini dilihat terutama dari mengapa munculnya kemiskinan dalam suatu masyarakat berbeda pula. Ahli ilmu sosial melihat munculnya kemiskinan dalam suatu masyarakat berkaitan dengan budaya yang hidup di masyarakat tersebut. Setidaknya ada tiga pandangan tentang kemiskinan ini.

Pertama, kemiskinan sering dikaitkan dengan rendahnya etos kerja anggota masyarakat atau dengan kata lain sebab kemiskinan terkait dengan rajin atau tidaknya seorang dalam bekerja. Jika orang itu rajin bekerja boleh dipastikan ia akan hidup berkecukupan. Di samping itu pula, orang itu memiliki sifat hemat. Ia akan hidup lebih dari berkecukupan. Di Indonesia, terdapat stereotipe subjektif bahwa kehidupan suku bangsa Cina lebih baik secara ekonomi daripada suku lainnya. Hal itu dikarenakan mereka dianggap orang yang memiliki etos kerja tinggi dan hemat dalam perilaku konsumtif. Sedangkan, suku asli Indonesia dianggap malas dan hidup miskin.

Kedua, para ahli ilmu sosial memandang munculnya kemiskinan disebabkan karena adanya ketidakadilan dalam pemilikan faktor produksi. Yang dimaksud ketidakadilan faktor produksi di sini ialah pemilikan tanah yang tidak merata di masyarakat pedesaan. Hal tersebut dianggap akan menimbulkan kemiskinan. Pembagian faktor produksi yang tidak merata itu menjadikan masyarakat pedesaan terbagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok pemilik tanah dan kelompok yang tidak memiliki tanah, dimana kelompok yang punya tanah mendominasi yang tidak mempunyai tanah baik secara ekonomis maupun politik masyarakat pedesaan.

Ketiga, ada pandangan lain tentang sebab munculnya kemiskinan dalam masyarakat. Pandangan ini mengkaitkan kemiskinan dengan model pembangunan yang dianut oleh suatu negara. Para ahli ilmu sosial yang memiliki perspketif ini melihat bahwa model pembangunan yang hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi suatu negara akan menimbulkan kemiskinan pada sekelompok masyarakat dalam negara yang menganut model itu. Model pembangunan yang hanya mengejar pertumbuhan akan memunculkan ketidakseimbangan perkembangan antara sektor ekonomi modern dan sektor ekonomi tradisional. Bidang ekonomi modern lebih cepat tumbuh dibanding bidang ekonomi tradisional. Padahal pada bidang ekonomi tradisional ini justru sebagian besar penduduk suatu negara berkembang menggantungkan hidup mereka.

Untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi modern ini, pemerintah negara menyediakan fasilitas ekonomi dan dukungan politik supaya mereka mampu membantu pemerintah mencapai target pertumbuhan ekonominya. Kebijaksanaan memberi fasilitas pada bidang ekonomi modern berarti bidang ekonomi tradisional menjadi terhambat proses perkembangannya. Akibatnya masyarakat pendukung bidang ekonomi tradisional harus hidup dalam kemiskinan. Mereka miskin karena adanya suatu kebijaksanaan ekonomi yang menganak-tirikan mereka. Alhasil dari keadaan tersebut adalah pembangunan dan hasilnya akan dinikmati oleh sebagian kecil kelompok masyarakat, sedangkan mayoritas masyarakatnya akan hidup tanpa menikmati hasil pembangunan. Dengan kata lain, mayoritas warganya hidup di luar pertumbuhan ekonomi, yaitu miskin.

Meskipun tiga pandangan teori tentang munculnya kemiskinan tersebut sangat berguna untuk dimengerti. Namun, ketiganya mempunyai satu kelemahan yakni ketiganya melihat sebab-sebab kemiskinan dari satu faktor saja. Padahal kenyataannya banyak faktor penyebab kemiskinan. Kemiskinan tidak dapat dipahami secara utuh bila melihat permasalahan dari satu faktor saja. Kita tak dapat mengkaitkan begitu saja mengkaitkan kemiskinan dengan rendahnya etos kerja seseorang atau sekelompok masyarakat. Karena pada kenyataan empirisnya membuktikan bahwa justru orang miskinlah yang paling rajin bekerja. Orang miskin bahkan harus bekerja lebih berat daripada orang kaya karena tanpa bekerja ekstra mereka mungkin tak dapat hidup. Begitu juga masalah tidak meratanya pemilikan tanah yang merupakan penyebab utama dari kemiskinan pedesaan. Para transmigran di Indonesia masih cukup banyak yang miskin meski mereka masing-masing memiliki tanah yang terhitung luas. Letak desa mereka yang terpencil, lahan pertanian yang kurang subur, dan kurangnya penyuluhan pertanian kepada para tranmigran menyebabkan mereka tak mampu untuk keluar dari kemiskinan.

Mengkaitkan model pembangunan yang mengarah pada pertumbuhan ekonomi dengan kemiskinan juga mengandung satu kelemahan. Tanpa pertumbuhan ekonomi maka kemiskinan malah semakin parah. Di Indonesia, pada masa Orde Lama pertumbuhan ekonomi sangat kecil. Akibatnya saat pemerintahan Orde Baru mulai menerapkan pembangunan, 60% warga Indonesia hidup miskin. Namun, setelah 25 tahun pemerintah Orde Baru membangun dengan laju perkembangan ekonomi yang cukup baik (rata-rata 5%) justru jumlah orang miskin menurun dari 60% menjadi 15% dari seluruh penduduk Indonesia. Dari penjabaran ini, dapat disimpulkan bahwa dibutuhkan suatu perspektif teoretis baru yang mampu masalah kemiskinan dan orang miskin secara utuh dan menyeluruh.

Sumber acuan

Soetrisno, Loekman. 1997. Kemiskinan, Perempuan, dan Pemberdayaan. Yogyakarta: Kanisius.

Saran bacaan:

  • Kuntjoro-Jakti, Dorodjatun. 1986. Kemiskinan di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  • Wrigley, E.A. 2004. Poverty, Progress, and Population. New York: Cambridge University Press.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.