Oleh: Adwi Nur Riyansyah

Pendahuluan

Musik adalah ekspresi kultural yang bersifat universal seperti halnya bahasa dan humor. Satu-satunya ikatan antara musik dan kehidupan adalah emosi. Musik bagi masyarakat Melayu Riau dan Sumatera Timur bukanlah hanya kreasi artistik, tidak juga sekedar untuk hiburan atau bersantai, tetapi musik itu bersatu dengan aspek kebudayaan. Pada mulanya musik Melayu diselenggarakan dengan tepuk tangan, tepukan badan secara berirama, kemudian ketukan pada kayu atau buluh, kemudian meningkat pada alat-alat gendang, barulah berkembang kepada alat musik tiup dan gesek lainnya. kalau pada mulanya ia hanya mengiringi upacara keagamaan seperti animisme, dinamisme, totemisme, dan lain-lain, maka kemudian dalam perkembangannya musik Melayu itu sudah merupakan bagian di dalam teater-teater tradisional Melayu seperti makyong, menora, rudat, silat, zapin dan di dalam tarian-tarian hiburan, sebagai suatu bagian yang terpisahkan (Basyarsyah II, 2002:285).

Riau menjadikan kesenian sebagai titik memulai (starting point) dengan memposisikan unsur kesenian sebagai inti lingkaran unsur-unsur kebudayaan dan memposisikan unsur kebudayaan lainnya di lingkar luar yang saling mengait dengan lingkar inti. Sebagai ini, kesenian Riau dipandang sebagai spirit terhadap siklus kehidupan orang-orang Melayu, karena unsur-unsur seni menyusup dan menghiasi hampir semua tatanan kehidupan orang Melayu (Rahman, Elmustian, 2009:8:).

Pada kajian etnomusikologi  musik pada masyarakat Melayu mendapat pengaruh dari bangsa-bangsa lain seperti Cina, Siam, Arab, India Selatan, Persia, Portugis dan dari suku-suku yang bertetangga seperti Batak, Jawa, Minangkabau, Aceh, dan lain-lain. Pengaruh bangsa-bangsa luar itu dengan jelasnya dapat ditelurusi dalam alat musik, lagu-lagu, dan “tarian”, sehingga membuat sulit menentukan mana yang asli dan mana “modern” mendapat pengaruh barat atau yang bukan yang tradisional lagi. Ada dari kesenian Melayu Riau yang mendapat akulturasi dari budaya lain, misalnya Timur Tengah dan Portugis yaitu tari zapin, tari serampang dua belas, dan lain-lain, tetapi ada jenis kesenian yang dapat mempertahankan istana yang tradisional, sebab mereka membenarkan memiliki hubungan inter-kultural dengan adat lainnya daripada mengadakan percampuran. Namun, sebagian besar budaya Melayu dalam seninya banyak mendapat pengaruh dari budaya berbagai suku bangsa. Musik tradisional Melayu tidaklah diwariskan di dalam bentuk notasi seperti halnya pada musik Barat, tetapi diwariskan secara informal, jadi tergabung di dalam “oral tradition” di dalam kebudayaannya.

Pada musik seni tradisional Melayu Riau dan Sumatera Timur utamanya pada makyong, prioritas diberikan kepada keahlian memukul gendang dan gong. Di dalam suatu ensemble itu alat musik tiup dan gesek sedikit jumlahnya dan alat musik tiup sebenarnya hanya diberikan peranan sampingan saja di dalam bunyi-bunyian secara keseluruhannya. Ada tiga buah alat musik yang paling inti pada kesenian Melayu, yaitu

  • Gendang
  • Rebab
  • Gong atau Tetawak

Kemudian barulah berturut-turut diikuti oleh alat musik lainnya, seperti serunai, bermacam-macam jenis gendang, talempong, kesi (cymbal), ceracap, dan alat musik lainnya. Sebelum memasuki pada pembahasan pengaruh musik pada tubuh dalam seni makyong, lebih baik kita menyimak apa itu makyong, bagaimana makyong di Riau, dan pengembangannya. Menurut Pudentia, makyong memiliki arti penting bagi perkembangan seni dan budaya Melayu. Repertoar seni tari, nyanyi, musik, dan dialog dapat ditemukan dalam makyong ini. Dalam sudut pandang budaya Melayu, makyong dianggap sebagai representasi dari budaya Melayu itu sendiri.Yang menarik adalah cerita tidak dianggap penting karena cerita ada pada ingatan para penutur dan di pentasnya isi cerita tidak sampai tuntas disampaikan. Secara spesifik , makyong menampilkan kelenturan budaya Melayu. Kelenturan, kecairan, atau fluiditas ada pada masyarakat Melayu itu pula ada pada pementasannya.

Makyong di Riau

Ada berbagai pendapat mengenai asal usul Makyong di Kepulauan Riau, antara lain pendapat hasil rumusan Diskusi Teater Tradisional yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta bersama Direktorat Pembinaan Kesenian pada tanggal 13 Desember 1975. Dari pendapat itu tidak dapat diketahui dengan pasti kapan Makyong sampai ke Riau, karena Makyong berkembang menurut situasi dan kondisi setempat, dan akhirnya menjadi sebuah pertunjukan yang mendarah daging bagi penduduk setempat. Sebuah sumber mengemukakan bahwa Makyong sudah sampai ke Malaka dan Siak pada tahun 1920. Padahal berdasarkan keterangan yang dikemukakan orang-orang tua di Mantang (tempat teater ini berkembang pesat di Kepulauan Riau) disimpulkan bahwa Makyong telah ada di Riau hampir seabad yang lalu. Kalau hal ini benar, maka Makyong lebih dulu sampai ke Riau, baru ke Sumatera Utara, yang tercatat terjadi pada tahun 1896 pada saat Kerajaan Serdang diperintah Sultan Sulaiman. Tidak seorang pun tahu dengan pasti arti kata Makyong. Mubin Sheppard yang dianggap paling paham tentang seluk-beluk Makyong di Malaysia juga belum tahu secara pasti arti kata Makyong. Dia mengemukakan bahwa Makyong berasal dari kata Ma Hiang atau the Mother Spirit. Yang jelas Makyong dikenal sebagai nama sebuah bentuk teater dan nama salah seorang tokoh utama dalam lakon Makyong. Teater Makyong pernah berjaya di Riau. Teater ini tidak saja hidup di tengah masyarakat, tetapi juga merupakan kekayaan budaya istana.

Di Kepulauan Riau masa lalu, Makyong ditemukan di dua tempat, yaitu di Tanah Merah dan di Mantang Arang. Menurut seorang pembina teater, dulu ada beberapa kelompok Makyong, yaitu delapan kelompok di Mantang Arang yang masing-masing dipimpin oleh Hasan, Ni Poso, Tongkong, Botak, Ungu Mayang, Awang, Begoh, Khalid; di Tanah Merah dipimpin oleh Embak Tanah Merah; di Rempang dan Sembulang dipimpin oleh Niah; dua kelompok di Kasu masing-masing dipimpin oleh Minah Kekap dan Mat Darus; dan di Dompak dipimpin oleh Emak Empak. Kelompok yang masih ada hingga sekarang hanya Makyong Mantang Arang yang dipimpin oleh Khalid. Sebagian besar anggota kelompok ini sudah berusia lebih dari setengah abad. Bahkan anggota tertua berusia lebih dari delapan puluh tahun (pada tahun 1989). Penduduk Mantang Arang sebagian besar bekerja sebagai petani dan nelayan. Mereka tidak tinggal di Pulau Mantang yang hanya terdiri dari sebelas rumah itu. Pada hari-hari besar tertentu seperti hari raya Idul Fitri, Idul Adha, dan Maulud Nabi mereka baru beramai-ramai pulang ke kampungnya.

Pementasan Mak Yong

Seperti juga teater rakyat tradisional lainnya, pementasan Makyong tidak menuntut set properti, dekorasi, atau layar untuk pergantian babak. Bila Makyong dipentaskan di lapangan terbuka, tempat pentas harus diberi atap yang menggunakan bubungan dengan enam buah tiang penyangga. Pada kayu yang melintang dihiasi daun kelapa muda. Bila dimainkan di istana, Makyong dipentaskan di panggung beton berbentuk segi enam.

Setelah Ketua Panjak yang disebut Bomo mendapatkan tempat yang tepat untuk pertunjukan Makyong, ia harus melakukan serangkaian upacara sebelum pementasan dilakukan. Mula-mula dilaksanakan upacara mengasap alat-alat yang terdiri dari sebuah gendang penganak, sebuah gendang pengibu, dua buah tawak-tawak atau gong, dua buah mong atau kromong, sebuah geduk-geduk, sebuah canang, sebuah serunai, dan sebuah rebab. Upacara mengasap dilanjutkan pada alat-alat bermain (properti) lainnya, termasuk canggai (kuku-kuku palsu yang panjang).

Upacara selanjutnya disebut buang bahasa atau buka tanah dengan menanam sebutir telur ayam, segenggam beras basuh, segenggam beras kuning, bertih, sirih sekapur, dan sebatang rokok daun nipah. Setelah sang Bomo memerintahkan pembantunya menanam benda-benda tersebut, ia mulai menaburkan bertih dan beras basuh ke sekeliling tempat bermain, sambil membaca serapah atau mantra yang diiringi bunyi musik berirama magis. Serapah tersebut berbunyi:

Assalamualaikum

Waalaikumsalam

Tabik orang di laut

Tabik orang di darat

Aku nak membubuh paras

dan tanda di sini

Aku minta tanah yang baik

Bismillahirrahmanirrahim

Bam tanah Jembalang tanah

Aku tahu asal engkau

Mulai menjadi bintang timur

Berundurlah engkau dari sini

Jangan engkau menghalang

Pekerjaan aku di sini

Huh !

Setelah itu Bomo menekankan ujung jarinya ke langit-langit mulutnya, kemudian menekankan jari itu pada tanah. Selama upacara berlangsung, para pelakon/pemain duduk berderet di depan pemain musik. Begitu Bomo selesai mengadakan upacara buka tanah atau buang bahasa, para pemain segera mengambil satu atau dua butir bertih dan beras basuh yang ditaburkan sang Bomo untuk dikunyah, dengan maksud agar lakon mereka lancar.

Pertunjukan Makyong pun dimulai. Dengan diiringi musik, seorang pemain wanita berpakaian lelaki yang memerankan Pakyong atau Cikwang berdiri. Dia bertelekan pada kedua lutut dan perlahan-lahan berdiri sambil menyanyikan lagu “Betabik”. Nyanyian Pakyong disambut oleh para pemain wanita yang memerankan inang dan dayang. Mereka berdiri, kemudian ikut menari dan menyanyi bersama Pakyong. Setelah selesai membawakan lagu Betabik, para dayang dan inang duduk kembali. Pakyong yang masih berdiri di tengah area pertunjukan segera memanggil Si Awang atau Peran. Di sudut lokasi itu Awang atau Peran menyahut panggilan Pakyong sambil memantrai topeng yang sedang dipegangnya. Topeng dipakai dan ia pun mendekati Pakyong dengan gerakan teatral khas Makyong, yaitu melenggang dengan tangan bergetar. Dalam teater Makyong, Awang atau Peran merupakan pemain yang amat penting. Dia menjadi pelawak, pengiring raja, pengiring anak raja (pangeran), dan kadang-kadang juga disebut Pakyong Muda.

Pergantian babak atau adegan dalam teater Makyong ditandai dengan nyanyian dan dialog yang diucapkan para pemain atau dengan duduk dan berdirinya para pemain di pinggir ruang pertunjukan, sedangkan pertukaran peran dilakukan dengan menukar topeng yang dikenakan pemain. Seorang pemain boleh membawakan lebih dari satu peran, bahkan tiga atau empat peran dengan cara menukar topengnya. Jalan pertunjukan Makyong agak lamban. Cerita dapat bersambung terus selama lima malam, kadang-kadang sampai tujuh malam. Pertunjukan biasanya dimulai setelah Isya dan berakhir menjelang Subuh.

Cerita Makyong

Cerita yang disajikan dalam pementasan Makyong sebagian besar sudah dikenal secara luas, karena cerita dalam Makyong berasal dari folktale atau warisan dari tukang cerita istana. Tidak ada peninggalan tertulis tentang lakon Makyong. Semua lakon ditularkan melalui tradisi lisan. Di antara cerita-cerita Makyong yang sangat terkenal ialah Tuan Putri Ratna Emas, Nenek Gajah dan Daru, Cerita Gondang, Wak Peran Hutan, Gunung Intan, Dewa Muda, Dewa Indra Dewa, Megat Muda, Megat Sakti, Megat Kiwi, Bungsu Sakti, Putri Timun Muda, Raja Muda Laleng, Raja Tingkai Hati, Raja Dua Serupa, Raja Muda Lembek, dan Gading Betimbang. Kadang-kadang juga dipentaskan cerita yang berasal dari Mahabarata, Ramayana, cerita Panji, dan Pagarruyung. Cerita dan bahan yang disebut terakhir sudah beda jauh dari aslinya, sehingga hanya dapat dikenal dari bingkai atau polanya saja. Sebagai contoh adalah cerita Koripan yang berasal dari cerita Panji.

Jika dalam pewayangan (wayang purwa) dikenal cerita-cerita yang tabu dipentaskan tanpa sesaji atau semah dan upacara khusus, Makyong pun memiliki ceritera seperti itu, yaitu lakon Nenek Gajah dan Daru. Cerita ini mengisahkan tentang seekor hewan mitologis Melayu bernama Gajah Mina di Pusat Tasik Pauh Janggi yang bertempur dengan bermacam-macam ular dan naga. Anggota kelompok Makyong dan masyarakat di sekitar Mantang Arang percaya bahwa jika cerita ini dipentaskan tanpa semah dan upacara tertentu, hal itu akan mendatangkan badai dahsyat.

Tokoh pertunjukan Makyong terdiri dari: Pakyong atau Raja, Pakyong Muda atau Pangeran, Makyong atau Permaisuri yang disebut juga Mak Senik, Putri Makyong atau Putri Raja, Awang Pengasuh atau pelayan raja yang berjumlah lebih dari satu orang, Orang tua, Dewa, Jin dan Raksasa, dan para Pembatak. Peran-peran wanita ialah Makyong, Putri, Inang, dan Dayang. Pakyong merupakan tokoh pria, namun dibawakan oleh wanita. Peran-peran seperti Awang, Mak Perambun, Wak Petanda Raja, Wak Nujum, Dewa, Jin, Pembatak, dan Raksasa dibawakan oleh pria.

Musik, Tari, Dan Nyanyi

Dalam teater Makyong dikenal lagu Tabuh, Betabik, Awang Nak Bejalan, Selendang Awang, Colak Adik Hitam, Sedayung Makyong, Gendang Tinggi, Jalan Masuk, Mengulit Kasih, Cik Poi, Lenggang Tanduk, Cik Milik, Lagu Rancak, Bunga Kuning, Timang Welo, Lagu Sabuk, Gemalai Lagu Kelantan, dan Ikan Kekek yang diiringi dengan alat-alat musik. Lagu-lagu ini dibawakan dengan tari dan dengan atau tanpa lirik. Dalam pertunjukan Makyong, para pelakon/pemain berjalan dengan gerak tari sederhana. Gerakan yang sederhana itu menggambarkan watak para pelakon. Misalnya seorang wanita pemeran Pakyong harus memperlihatkan gerakan yang cekatan untuk menggambarkan bahwa dirinya seorang pria.

Contoh perbedaan gerakan pria dan wanita ialah dalam cara duduk. Duduk bersila, berlipat lutut peria, dan bersimpuh (bertimpuh) merupakan cara duduk untuk wanita. Duduk dengan menegakkan lutut merupakan cara duduk untuk pria dan wanita. Gerakan-gerakan lain dalam pertunjukan makyong ialah ketika berdiri: tegak merendah, bersilang kaki, berputar di tempat, beringsut setengah lingkaran ke kiri dan ke kanan, dan bergeser sejajar dengan lingkaran. Ketika melangkah dikenal gerakan langkah berjalan, melenggang, langkah terhenti, langkah tari, langkah segi tiga atau mengubah arah, langkah segi empat, langkah mengejar, dan bergegas. Gerakan yang dipakai untuk tangan yaitu lenggang berjalan untuk pria, lenggang berjalan untuk Mak Inang, sembah pembuka, gerak tari pembuka ketika duduk dan berdiri, gerak tari sabuk kiri dan kanan, gerak tari asyik, gerak tari ular sawah, gerak tari mabuk, gerak tangan sebelah ketika berundur, gerak tari tanduk, gerak kecipung, gerak senandung jamak, dan gerak aba-aba. Jenis tari yang terdapat dalam teater Makyong yaitu tari pembukaan yang disebut Betabik, tari berjalan jauh atau dekat, tari ragam atau tari gembira, dan tari perang atau gerak silat. Tari hiburan yang dilakukan oleh inang dan dayang berupa tari Inai, yaitu tari untuk upacara perkawinan dan tari Bersenang Hati di Taman, yaitu tari untuk menghibur tuan putri.

Pengaruh Musik Terhadap Tubuh

Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, pada pementasan makyong gerak tari pemain dipengaruhi oleh musik yang dimainkan, atau dengan kata lain gerak tari mengikuti alunan musik. Tubuh dilatih dan dijadikan media untuk menyampaikan isi cerita kepada para penonton dengan dasar gerak mimik tubuh para pemain (Danaan, 1986: 111). Selain itu pula, ditemukan adanya perbedaan gerak dan tari tubuh berdasarkan gender laki-laki dan perempuan pada makyong ini, misalnya dari cara duduk dan gerakan tangan mereka saat pentas. Dari pengamatan ini, ada sebuah teori yang saya temukan untuk menganalisa fenomena kultural tersebut yaitu pernyataan Finnegan (1989) menjelaskan bahwa musik tidak hanya membentuk tindakan orang, tetapi juga mengambil bagian penting dalam menyokong atau mempertegas identitasnya. Musik tidak hanya membentuk tindakan seseorang, tetapi bermain bagian penting bagaimana individu itu membentuk dan meneruskan identitasnya. Dari pernyataan Fennigan itu, dapat dianalisis bahwa identitas yang dimaksud dalam pementasan makyong adalah para tokoh yang diperankan oleh masing-masing individu. Gerakan tubuh diselaraskan oleh musik pengiring ketika tokoh beridentitas itu muncul di atas panggung. Saat musik pengiring dimainkan maka tokoh pun muncul dengan gerak tubuh yang sesuai dengan tokoh yang ia perankan. Misalnya saja tokoh Awang muncul, musik pengiring dan gerakan tubuh saat menari pun diselaraskan dengan tokoh tersebut. Satu hal yang menjadikan analisis ini penting adalah mengapa budaya masyarakat Melayu Riau memiliki sifat kehalusan dan keluwesan seni tari pada teater makyong. Dari hal tersebut menandakan bahwa terbukanya budaya Melayu terhadap budaya luar yang masuk pada alam Melayu, kemudian diolah dan ditampilkan sesuai dengan keadaan masyarakat (Pudentia, tt.).

Tubuh yang dimaksud bukan badan secara fisik saja akan tetapi juga mental. Tubuh kita ini berhubungan langsung dengan dunia atau lingkungan. Kita bisa menganggap bahwa dunia ini adalah bagian dari tubuh kita, ini berarti tubuh bukan hanya tubuh yang dapat dilihat saja tapi tubuh yang memiliki pengertian yang luas (Nakagawa, 2000:41). Pernyataan tentang musik dan tubuh juga dikemukakan oleh Shin Nakagawa bahwa musik adalah ekspresi seni yang berpangkal tubuh. Musik terdiri atas suatu peredaran atau arus balik dari membunyikan, mendengarkan, dan membunyikan kembali. Membuat musik sama artinya  berdialog dengan tubuh. Jika kita sedang belajar musik, kita pasti menjadi sadar bahwa gerakan-gerakan tubuh kita itu bukan gerakan tubuh kita sehari-hari. Misalnya bila kita belajar rebab, atau biola gerakan tubuh kita juga tidak sama dengan gerakan ketika sedang tidur atau kegiatan lain dalam kehidupan sehari-hari. Nakagawa berasumsi bahwa gerakan tubuh apabila berhadapan dengan musik pada dasarnya adalah akibat pertemuan aktif antara individu dengan dunia luar Nakagawa, 2000:42-43). Dukungan teori lain juga muncul dari Mitchell dan Gallaher, mereka menyatakan bahwa musik dan tari gerak tubuh itu dapat disandingkan berdasarkan kondisi partisipan, atau dengan kata lain pemain dari seni itu. Musik atau seni dan tubuh dalam seni makyong dapat menjadi simbol adanya struktur sosial dalam masyarakat Melayu, misalnya jabatan atau pangkat, pekerjaan, dan peran masing-masing pemain yang memperlihatkan lapisan struktur sosial masyarakat Melayu.

Pengaruh musik dan tubuh setidaknya dapat kita perluas, tidak hanya pada kesenian saja, misalnya saja dalam olahraga senam. Setiap pagi hari, kita mungkin melakukan aktivitas senam yang bertujuan untuk menyegarkan dan menyehatkan tubuh. Saat senam berlangsung hambar rasanya bila tidak diiringi oleh musik berirama semangat. Musik dalam aktivitas senam sehari-hari pun megambil peranan yang cukup penting untuk membangkitkan semangat tubuh kita untuk melakukan gerakan-gerakan senam. Dengan irama yang biasanya menghentak-hentak, timbul rasa keinginan unntuk melakukan gerakan senam, tubuh pun pada akhirnya melakukan senam karena pengaruh dari musik yang didengar. Contoh lain misalnya yaitu ketika musik dangdut dimainkan dengan tujuan hiburan, tubuh pun solah-olah mengikuti alunan musik untuk bergoyang, bergerak dengan gerakan yang khas pada musik dangdut.

Kesimpulan

Musik dan tubuh merupakan dua hal yang berkaitan pada seni khususnya. Tubuh ditampilkan dengan iringan musik tradisional makyong, sehingga gerakan-gerakan tubuh membentuk tarian tertentu kemudian menampilkan identitas sang pelaku seni. Musik dapat membentuk tindakan dan identitas dari individu, sehingga hal ini dapat disebut dengan ekspresi seni. Pada pementasannya itu selalu dipengaruhi oleh musik. Repertoar tari Melayu ditampilkan ketika musik dimainkan pada suatu babak cerita makyong. Dari gerak-gerak tubuh ini kemudian meluas pada adanya perbedaan gender dengan gerak tubuh yang berbeda pula berdasarkan identitas tokoh-tokh dalam cerita makyong. Tidak hanya musik berpengaruh pada tubuh saja, tapi juga sebaliknya. Ada teori dari Mitchell dan Gallaher, bahwa partisipan (pelaku) juga dapat menentukan musik dan tubuh dapat beriringan dan bersanding sehingga membentuk sebuah tarian. Mereka lebih menekankan aspek si pelaku seni dalam menampilkan musik dan tari menjadi sebuah tampilan seni yang menarik.

Daftar Pustaka

Basyarsyah, Tuanku Luckman Sinar dan Wan Ssyaifuddin. 2002. Kebudayaan Melayu Sumatera Timur. Medan: Universitas Sumatera Utara Press.

Basyarsyah, Tuanku Luckam Sinar. 2005. Adat Budaya Melayu: Jati Diri dan Kepribadian. Sumatera Utara: FORKALA

Danaan, Llyn de. The Blossom Falling: Movement and Allusion in a Malay Dance. Asian Theatre Journal, Vol. 3, No. 1, Traditional Asian Play Issue Part II (Spring,1986), pp. 110-117

Mitchell, Robert.W dan Matthew C. Gallaher. Music Perception: An Interdisciplinary Journal, Vol. 19, No. 1 (Fall 2001), pp. 65-85

Mohammad Samin bin, Suwardi. 2013. Diaspora Melayu: Perantauan dari Riau ke Tanah Semenanjung. Yogyakarta: Pustaka Pelajar bekerja sama dengan Alaf Riau, Pekanbaru

Nakagawa, Shin. 2000. Musik dan Kosmos: Sebuah Pengantar Etnomusikologi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Rahman, Elmustian, dkk. 2010. Riau: Tanah Air Kebudayaan Melayu. Riau: Universitas Riau

Lembaga Penelitian Universitas Islam Riau. 1999. Islam dan Masyarakat Melayu di Riau. Universitas Islam Riau Press

Sastrosuwondho, Soemantri. 1985. Teater Melayu dan Perkembangannya. Makalah Seminar “Masyarakat Melayu Riau dan Kebudayaannya” di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau tanggal 17-21 Juli 1985

Shilling, Chris. 2003. The Body and Social Theory.London. Thousand Oaks, New Delhi: SAGE Publications

____________. 2005. The Body in Culture, Technology and Society. London, California, New Delhi: SAGE Publications

Synnot, Anthony dan David Howes. From Measurement to Meaning. Anthropologies of the Body. Anthropos, Bd. 87, H. 1./3. (1992), pp. 147-166

Video:

Pudentia. Mengangkat Batang Terendam Seni Makyong: Sebuah Usaha Membangkitkan Kembali Seni Tradisi Melayu dari Kepulauan Riau Indonesia. Asosiasi Tradisi Lisan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.