Antropologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari subjek manusia sebagai pusat kajiannya dari sudut pandangan sosial humaniora dan eksakta secara holistik. Dalam hal kebudayaan misalnya, menurut Darnawi (1981) ilmu ini memiliki dasar pengertian bahwa unsur-unsur kebudayaan saling berkaitan satu dengan yang lainnya secara integrasi. Ilmu ini memiliki konsep teori dan metode yang berbeda dari ilmu-ilmu sosial humaniora yang lain. Diantara berbagai metode yang digunakan oleh antropolog dalam meneliti manusia dan kebudayaannya adalah metode observasi. Metode penelitian boleh dibilang sebagai metode khas dan klasik yang digunakan dalam penelitian lapangan serta menjadi suatu tahap-tahap penelitian. Observasi menjadi suatu metode yang harus dikuasai dalam praktikum antropologi.

Pada observasi partisipan, antropolog akan memperoleh pengalaman lapangan dan “bantuan” ilmu sosial lainnya guna mendapatkan keterangan data dan memberikan koreksi. Biasanya data yang didapat oleh peneliti yang menggunakan observasi lebih bersifat kualitatif namun dapat pula dibarengi dengan data kuantitatif. Peneliti yang menggunakan metode ini akan dihadapi oleh situasi sosial untuk terjun langsung dalam aktivitas masyarakat yang cocok dalam situasi dan mengamati kegiatan-kegiatan, orang-orang dan aspek-aspek fisik dari situasi (Darnawi, 1981:34).

Menurut Darnawi (1981) cara observasi partisipan ini dianjurkan supaya dapat merasakan lebih mendalam tentang makna budaya yang dihayati penduduk setempat. Pola interaksi ini dimulai saat antropolog itu pertama kali hadir di lingkungan masyarakat yang diamati. Ia harus menjaga hubungan interaksi dan komunikasi yang baik dan akrab baik dengan informan maupun masyarakat di sekitar. Pada proses observasi partisipan ini kerap terjadi partisipasi dalam bentuk dialog yang melibatkan komunikasi bahasa.Terlebih masyarakat yang diteliti ini berbeda bahasa dan budaya dengan antropolog. Hal yang cukup penting adalah etnografer/antropolog harus mampu menghilangkan sementara acuan budaya (cultural reference) yang dimilikinya (Darnawi, 1981: 38). Ini akan menjadi tantangan tersendiri. Untuk mengatasi perbedaan komunikasi bahasa, memang antropolog diharapkan mampu berbahasa yang biasa digunakan oleh masyarakat itu. Misalnya peneliti berasal dari Sunda yang masyarakat Mongondow, maka ia diharapkan dapat berkomunikasi dengan penutur bahasa tersebut. Tapi pertanyaannya, apakah penguasaan bahasa lokal ini menjadi keharusan bagi antropologi? Sebetulnya tidak diharuskan. Ia dapat mengatasinya dengan berkomunikasi menggunakan bahasa pengantar nasional, bahasa Indonesia. Atau antropolog dapat mengajak seorang interpreter dari masyarakat tersebut sebagai penerjemah dalam wawancara dan pengamatan. Menurut Obeyesekere (1990), interpreter ini adalah informan favorit (favourite informant) yang dianggap oleh antropolog untuk membantunya selama observasi berlangsung. Interpreter ini diharapkan dapat mengatasi terhambatnya komunikasi bahasa yang dialami oleh antropolog. Dengan kata lain, interpreter ini sebagai rekannya (partner) untuk membina hubungan jangka panjang terhadap penduduk dengan situasi lapangan yang unik.

Penguasaan bahasa lokal bukan satu-satunya kunci untuk menciptakan nilai tambah bagi antropolog/etnografer dalam membina komunikasi yang baik dengan penduduk setempat. Antropolog membutuhkan interpreter guna menjembatani hubungan komunikasi dalam observasi partisipan. Untuk lebih memberi kesan akrab terhadap informan lain, peneliti dapat menggunakan beberapa kata dalam bahasa lokal ketika berkomunikasi. Melalui cara ini metode partisipan dapat memberi kesempatan peneliti lebih merasakan makna kultural dari masyarakat yang diteliti dan dapat mengungkap realitas kehidupan sosial (Darnawi, 1981:40). (Adwi N. Riyansyah)

Sumber rujukan:
– Darnawi, Soesatyo. 1981. Kumpulan Makalah Lokakarya Penelitian Sosial Budaya Madura: Jakarta: Depdikbud.
– Obeyesekere, Gananath. 1990. The Work of Culture: Symbolic of Culture in Psychoanalysis and Anthropology. The University of Chicago: USA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.