Dalam penelitian antropologi, metode penelitian yaitu observasi dan wawancara  merupakan metode yang sangat penting karena antropolog dituntut memiliki kepekaan fenomena sosial budaya yang ditemui dalam komunitas masyarakat yang ditelitinya. Dalam menjalankan kedua metode tersebut, seorang antropolog selalu dilengkapi perangkat pendukung penelitian yaitu catatan harian.

Catatan harian ini boleh pula disebut catatan lapangan, karena berdasarkan cacatan dari lapangan atau lokasi penelitian.  Lalu, apa sajakah yang ditulis oleh antropolog dalam catatan harian/lapangan ini? Para antropolog menulis dalam catatan lapangannya berdasarkan tema-tema riset mereka, meski begitu sering pula mereka menulis hal-hal menarik lain di luar tema-tema penelitiannya dan mendukung penelitiannya. Misalnya tim antropolog memiliki tema besar mengenai “Dampak pembangunan kesehatan terhadap pola perilaku kultur kesehatan di masyarakat Melayu”. Selain, mereka mencatat aspek-aspek kesehatan yang mereka temui ketika mereka berada di tengah masyarakat Melayu dan hidup bersama. Mereka juga menulis tentang aspek ekonomi, pendidikan, pekerjaan, dan kebiasaan hidup masyarakat tersebut. Mengapa ditulis juga? Karena siapa tahu dalam analisisnya nanti, aspek-aspek yang telah disebutkan tadi perlu dimasukkan dalam data sehingga memudahkan dalam mengolahnya.

Lalu bagaimana antropolog menulis catatan lapangannya? Dengan cara apa?

Ketika mereka ada di masyarakat yang diteliti, antropolog mulai menulis apa mereka rasakan melalui panca indera mereka. Apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan mengenai aspek sosial kultur manusia, termasuk interpretasi mereka terhadap suatu fenomena sosial-budaya. Semuanya ditulis dalam catatan harian. Jadi, bukan seperti buku catatan diari.

Media apa yang digunakan untuk menulis catatan lapangan?

Biasanya para antropolog menulis dengan menggunakan buku kecil dan tebal, atau varian bentuk dan ukuran buku lain yang memungkinkan untuk dapat dibawa kemana-mana dengan mudah. Antropolog tidak hanya diam di rumah induk semang atau pihak yang menerima dan memperkenalkan antropolog untuk tinggal. Mereka harus beradaptasi dan bersosialisasi serta membangun hubungan kultural personal yang erat dengan masyarakat yang ditelitinya, apalagi dengan informannya. Namun, ada juga antropolog yang memilih menggunakan lembaran-lembaran kertas untuk menulis catatan lapangan. Namun, dari pengalaman riset yang pernah saya lakukan, saya lebih memilih menggunakan buku daripada lembaran-lembaran kertas, karena lembaran -lembaran kertas itu beresiko tercecer, ada lembaran yang hilang, dan terselip disela-sela barang-barang bawaan. Karena itu akan sangat merepotkan bila saat mengolag data ada catatan lapangan yang hilang. Catatan lapangan bisa ditulis dengan pulpen, pensil, spidol, dan alat-alat tulis lainnya, tergantung selera mereka, asalkan wujud hurufnya tetap terjaga sampai penelitian selesai.

Apabila kalian itu antropolog atau peneliti bidang sosial humaniora yang diharapkan sangat supaya menjaga baik-baik catatan lapangan kalian. Diharapkan jangan sampai hilang, rusak, atau pengaruh alam. Apabila mempunyai banyak waktu, sangat disarankan untuk memindahkan catatan lapangan ke bentuk softfile alias kita mengetik semua tulisan catatan ke komputer atau laptop. Hal ini dimaksudkan supaya catatan itu lebih terlihat rapi dan tertata dan mengantisipasi apabila catatan lapangannya hilang.

Apakah setelah semua proses penelitian sudah selesai, catatan lapangan itu boleh dibuang?

Tak semestinya catatan penelitian “lama” itu dibuang. Boleh saja tetap disimpan. Itu dapat saja berguna melihat perkembangan kepekaan antropolog terhadap fenomena sosial kultural dari masa ke masa berdasarkan tulisan catatan. Selain itu, ya boleh juga sebagai kenang-kenangan pengalaman risetnya, terlebih risetnya terhadap suatu masyarakat begitu berkesan dan mendalam baginya.

Catatan lapangan merupakan salah satu perangkat yang membantu antropolog atau peneliti sosial humaniora yang lain guna menunjang penelitiannya di lokasi penelitian. Cacatan ini boleh juga disebut sebagai perangkat untuk mendokumentasikan segala hal yang berhubungan dengan topik penelitian yang dirasakan oleh antropolog itu. (Adwi N. Riyansyah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.