Kampung Jawa Tondano yang terletak di Kabaupaten Minahasa, Sulawesi Utara ini didirikan oleh Kyai Modjo yang bernama asli Raden Mas Khalifah (Kyai Muslim Muhammad Khalifah) beserta 62 orang pengikutnya, semuanya pria pada awal tahun 1830. Mereka adalah orang-orang Jawa yang dibuang oleh Belanda ke Minahasa akibat perang Diponegoro. Seperti yang diketahui Pangeran Diponegoro sangat menentang penjajahan Belanda sehingga Kyai Modjo dan pasukannya yang termasuk sekutu Pangeran Diponegoro ini diasingkan. Jadi, sebagai langkah menghentikan peperangan mereka akhirnya mereka dibuang ke Tondano, Minahasa. Mereka, Kyai Modjo dan para pengikutnya membangun tempat pemukiman bernama Tegalrejo, dari tempat tersebut kemudian pemukiman ini dikembangkan ke selatan dan menjadi Kampung Jawa Tondano sekarang. Di kampung ini tidak hanya bermukim Kyai Modjo dan para pengikutnya, tetapi ada beberapa orang pengikut Pangeran Diponegoro yang dipindahkan dari Makassar dan beberapa rombongan kecil lainnya yang diasingkan Belanda ke Kampung Jawa, seperti dari daerah Cirebon, Surakarta, Banten, Padang, Banjarmasing, dan Aceh serta Saparua di Maluku. Selanjutntya penduduk Kampung Jawa yang terdiri dari Kyai Modjo dan pengikutnya ini akhirnya berbaur dengan penduduk asli dengan cara perkawinan dengan perempuan Minahasa setempat dimana perempuan itu anak dari kepala Walak Tondano dan Tonsea.

Cara mereka berbaur lainnya yaitu dengan menghadiri acara-acara keluarga seperti kematian, pernikahan, dan membawa sebagian dari hasil pertanian untuk diberikan kepada yang berhajat, ikut serta dalam mapalus, dan menghormati perayaan hari raya agama masing-masing. Hubungan penduduk Kampung Jawa yang Islam dan Minahasa Kristen semakin erat ketika masyarakat Kampung Jawa mengenalkan sistem pertanian yang maju terhadap penduduk Tondano. Berbagai keahlian lain seperti pandai besi, keterampilan roda sapi dan bajak dari Jawa diajarkan pada penduduk asli setempat. Semakin eratnya hubungan kedua kelompok masyarakat antara pendatang dan pribumi ini mengakibatkan masyarakat Kampung Jawa Tondano merasa bagian dari orang Tondano, sehingga ada sebutan dari mereka Niyaku Tondano atau orang Tondano.

Kebutuhan rohani agama Islam bagi internal masyarakat Kampung Jawa disertai dengan adanya masjid agung Al-Falah Kyai Modjo dan pendidikan agama bagi masyarakat, dimana sejak awal berdirinya kampung sudah didirikan. Kegiatan ekonomi dan mata pencaharian pun dikembangkan, seperti sistem pertanian yang menggabungkan sistem Jawa gotong-royong dan Minahasa dengan mapalusnya. Ada tradisi khas berkaitan dengan agama yang dilakukan masyarakat Kampung Jawa Tondano, yaitu tradisi Ba’do Katupat. Uniknya tradisi ini juga digemari oleh orang Minahasa yang Kristen. Tradisi ini dilakukan selepas puasa Ramadhan dengan membuat ketupat dari beras dan ketan.

Pembauran masyarakat Jawa di Tondano dengan masyarakat Minahasa yang cukup menarik adalah bahasa yang digunakan masyarakat Kampung Jawa. Mereka menggunakan Bahasa Tondano dialek tersendiri (Kampung Jawa) dengan percampuran antara bahasa Jawa dan bahasa Tondano dan satu dua kata dalam bahasa Tonsea. Mereka tidak lagi menggunakan bahasa Jawa karena penyebab salah satunya adalah kawin-mawin dengan perempuan Tondano. Di keluarga anak sering berkomunikasi dengan ibunya ketimbang ayahnya, orang Jawa, yang bekerja di luar rumah. Hubungan yang harmonis ini anntara masyarakat Minahasa dan Kampung Jawa di Tondano kian erat dalam agama, soial dan ekonomi. Namun, ada identitas khas yang dimiliki masyarakat Kampung Jawa. Masyarakat Jawa Tondano kian berkembang dan tersebar di Gorontalo dan beberapa tempat di Sulawesi Utara dengan nama kampung yang khas Jawa, seperti Kampung Yosonegoro di Gorontalo dan Kampung Bojonegoro di Minahasa.

Sumber acuan:

  • Babcock, Tim.G. 1989. Kampung Jawa Tondano: Religion and Cultural Identity. Gadjah Mada University Press.
  • Niyaku Toudano Maulud Tumenggung Sis dan Orang Jaton (Manado: Kerjasama BKSNT dan Laboratorium Antropologi Fisip Unsrat, 2003)
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.