Dalam ilmu antropologi budaya, dikenal istilah etnosentrisme dan relativisme budaya. Masing-masing kedua istilah itu memiliki maknanya. Jika kita pahami bersama, seolah-olah arti etnosentrisme dan relativisme memiliki arti yang saling bertolak belakang. Oleh karena itu, mari kita pahami secara ringkas berikut.

Apa itu Etnosentrisme?

Etnosentrisme adalah sikap ataupun pandangan yang berpangkal pada masyarakat dan kebudayaan sendiri, biasanya disertai sikap dan pandangan yang meremehkan masyarakat dan kebudayaan lain. Contoh pertama adalah ada masyarakat luar yang mengunjungi daerah terpencil dan melihat suatu upacara tradisi disana, masyarakat luar itu menganggap kebudayaan masyarakat terpencil itu rendah dan jelek jika dibandingkan dengan kebudayaan mereka sendiri, ini merupakan sikap etnosentrisme yang ditunjukkan masyarakat dari luar tersebut. Contoh kedua adalah ada perencana pembangunan yang akan mengadakan program pembangunan di suatu desa. Si perencana pembangunan tidak mengindahkan sistem tata nilai, norma, adat istiadat dan hukum adat masyarakat setempat dan merencanakan program pembangunan berdasar pada refleksi pembangunan budaya masyarakat lain atau bahkan kultur si perencana pembangunan itu sendiri.

Bagaimana dengan Relativisme Budaya?

Prinsip tentang relativisme budaya adalah tidak membenarkan adanya anggapan bahwa kebudayaan itu ada yang lebih tinggi atau lebih baik dan ada yang lebih rendah atau buruk. Hal ini karena tidak ada suatu ukuran yang yang paling tepat yang dapat digunakan untuk menilai tinggi rendahnya kebudayaan-kebudayaan yang ada, sehingga apa yang paling bijaksana adalah mengaitkan atau memakai ukuran-ukuran nilai yang hidup di masyarakat yang bersangkutan. Dengan demikian apa yang dianggap baik oleh suatu masyarakat jangan secara apriori diasumsikan akan dianggap baik pula oleh masyarakat lain.

Contohnya adalah pegawai kesehatan yang akan mengenalkan program kesehatan masyarakat diharapkan disesuaikan dengan kebutuhan kesehatan masyarakat yang bersangkutan, karena “sehat” menurut suatu masyarakat belum tentu sama dengan “sehatnya” masyarakat yang lain. Selain contoh itu adalah ada seorang perencana pembangunan ingin melakukan program pembangunan di suatu desa, maka si perencana pembangunan sebaiknya menyesuaikan pembangunan berdasarkan atas adat istiadat masyarakat setempat. Sehingga masyarakat desa akan merasa diakui dan diberi kesempatan partisipasinya, maka timbul rasa tanggung jawab untuk menjaga dan menyukseskan program pembangunan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.