Oleh: Adwi Nur Riyansyah

ABSTRAK

Salah satu sebab orang pergi merantau adalah mencari pendidikan yang lebih baik. Di samping itu pula banyak organisasi kedaerahan maupun etnis bermunculan di kota-kota besar yang menjadi tempat bernaung dan berkumpul diantara orang yang merantau untuk mengenyam pendidikan tinggi. Pada dasarnya orang di rantau memiliki kebebasan pada suatu organisasi etnisnya. Mahasiswa ada yang memilih ikut bergabung pada organisasi tersebut dan ada yang tidak, disesuaikan dengan minat dan peran yang diberikan suatu organisasi etnis kepada para anggotanya. Penelitian rintisan awal ini menguraikan tujuan mahasiswa Minangkabau di rantau untuk bergabung atau tidak pada suatu organisasi mahasiswa dari suatu etnis yaitu FORKOMMI dan peran yang diberikan organisasi etnis guna mempererat identitas kultural pada mahasiswa Minangkabau. Hasil dari tulisan ini adalah kita dapat mengetahui dan memahami tujuan mereka untuk bergabung pada organisasi etnis di rantau dan arti organisasi etnis bagi mereka serta analisa yang penulis lakukan.

Kata kunci: mahasiswa, organisasi, Minangkabau, etnis

Pengantar

Banyak latar belakang orang merantau ke kota besar seperti dari desa ke kota atau dari kota kecil ke kota besar. Ada beberapa dua faktor yang dikelompokkan dari aktivitas merantau ini, yaitu faktor penarik dan faktor pendorong. Kota-kota besar di Indonesia mempunyai peranan untuk mengembangkan kehidupan para perantau, yaitu dalam kehidupan ekonomi, hiburan, pembaharuan, pendidikan tinggi dan lain-lain. Peran pendidikan tinggi di kota besar yang lebih berkualitas daripada di daerah asal bagi para perantau menjadi alasan ketertarikan mereka. Mereka pergi merantau ke kota besar untuk mendapatkan kesempatan pendidikan tinggi yang lebih baik daripada di daerah asalnya. Ada kesenjangan pendidikan tinggi antara daerah asal dan kota besar seperti Yogyakarta, yang membuat mereka pergi meninggalkan kampung menuju ke kota besar.

Secara geografis, wilayah suatu kota lebih luas daripada desa membuat komunikasi antarperantau bersifat fungsional (Subagijo: 1999). Misalnya pada kelompok mahasiswa di perantauan, meskipun setiap hari mereka bertemu dan melakukan kontak, tetapi tempat tinggal mereka menyebar dan berjauhan satu sama lain. Mereka kadangkala sibuk oleh urusan masing-masing. Mereka pun akhirnya jarang bertemu atau saling berkunjung selain di kampus atau pada acara kegiatan lainnya. Oleh karena hal-hal tersebut, mereka ada kecenderungan untuk membentuk suatu wadah agar mereka saling bertemu, terutama mahasiswa yang seetnis atau sedaerah asal

Wadah yang dimaksud adalah paguyuban atau perkumpulan. Tak sedikit pula mahasiswa dari berbagai daerah yang kuliah di kota besar, belum bisa melepaskan budaya yang dibawa dari daerah asal seperti di desa dahulu guna beradaptasi. Kontak sosial di daerah asal cenderung lebih akrab, personal, dan total. Hal ini jarang didapatkan di kota-kota besar yang bersifat impersonal, segmental, dan hanya berdasar manfaat dan kepentingan. Seringkali mahasiswa di kota besar merasa sendiri dan kesepian dalam keramaian. Agar tidak merasa sendiri dan sepi, mahasiswa dari daerah perlu berhubungan dengan orang lain yang akrab dan familiar. Untuk menciptakan suasana seperti itu maka diperlukan sarana yaitu perkumpulan. Perkumpulan ini di perantauan ada yang bersifat kedaerahan dan etnis.

Perkumpulan kedaerahan adalah perkumpulan yang anggotanya berasal dari daerah yang sama. Sedangkan perkumpulan etnis adalah perkumpulan yang anggotanya berdasarkan pada etnis yang sama sehingga warna kultural pada perkumpulan ini begitu kental (Subagijo:1999). Ada beberapa contoh organisasi mahasiswa yang berbasis etnis dan kedaerahan muncul di Yogyakarta. Diantaranya adalah E-Gama yang merupakan organisasi mahasiswa dari wilayah tingkat III Cirebon di lingkungan UGM, Ikatan Pelajar Riau Yogyakarta dan Asrama Putra Riau Yogyakarta yang menjadi tempat aktivitas pelajar dan mahasiswa Riau yang sedang menuntut ilmu di Yogyakarta, Forum Komunikasi Pemuda Pelajar Mahasiswa Sumbawa Yogyakarta (FKPPMSY) yang baru didirikan tahun 2011, dan FORKOMMI (Forum Komunikasi Mahasiswa Minang) di lingkungan kampus UGM (Universitas Gadjah Mada). Banyaknya organisasi mahasiswa berbasis etnis dan daerah di Yogyakarta adalah karena mereka butuh suatu tempat silaturahmi mahasiswa untuk saling berkomunikasi dan berdiskusi. Namun, penulis akan mengangkat satu organisasi mahasiswa etnis Minangkabau di lingkungan kampus UGM yaitu FORKOMMI. Penelitian rintisan awal ini dilakukan pada akhir tahun 2012.

Melalui penelitian ini juga dapat diketahui peran organisasi etnis untuk memperkuat eksistensi kultural mereka di perantauan. Untuk memperoleh data dalam penelitian ini, selain menggunakan data kepustakaan, penulis juga melakukan wawancara terhadap dua mahasiswa Minangkabau di UGM.

Organisasi Mahasiswa Minang : FORKOMMI (Forum Komunikasi Mahasiswa Minang)

Di lingkungan kampus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta terdapat sebuah organisasi mahasiswa berdasarkan etnis juga kedaerahan yaitu FORKOMMI yang menjadi tempat silaturahmi mahasiswa Minangkabau untuk saling berkomunikasi dan berdiskusi. FORKOMMI-UGM didirikan di Yogyakarta pada tanggal 5 Oktober 1995. Namun, seiring berjalannya waktu, maka diadakan kajian dan diskusi untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa. Sehingga forum ini diorientasikan kepada organisasi kemahasiswaan yang berbasis kepada gerakan sosial budaya dan pendidikan dengan visi agar membentuk mahasiswa Minang yang berwawasan dan berjiwa sosial tinggi dan Islami. Organisasi ini juga memiliki lima misi yang intinya berperan bagi anggotanya sendiri dan masyarakat khususnya di Sumatera Barat.

Posisi organisasi FORKOMMI ini merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari organisasi masyarakat Minang di Yogyakarta. Dalam kesehariannya, organisasi ini berada di bawah Baringin Mudo dan binaan dari Ikatan Keluarga Besar Minangkabau Yogyakarta. Organisasi ini juga telah berkoordinasi dengan Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) Sumatera Barat. Sebagai kelengkapan organisasi, FORKOMMI mengadakan MUBES (Musyawarah Besar) dan RAKER (Rapat Kerja) untuk mengurusi urusan internal organisasi seperti mengambil kebijakan dan keputusan strategis organisasi, yang akan merumuskan AD/ART (Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga) dan GBHK (Garis Besar Haluan Kerja).

Sebagai organisasi yang terorganisir, FORKOMMI memiliki struktur organisasi yang terdiri dari ketua umum, sekretaris jenderal, bendahara, sekretaris, dan departemen-departemen yaitu departemen intern pengembangan organisasi, departemen akademik, departemen minat dan bakat, departemen dana dan usaha, dan departemen dakwah dan sosial. Mengenai ketentuan keanggotaan adalah mereka mahasiswa Minangkabau di UGM, baik mahasiswa S-1 reguler, profesi, ekstensi dan sebagian mahasiswa S-2. Selain itu keanggotaan juga ada yang berasal dari mahasiswa Minang non UGM yang intens terhadap organisasi tersebut, misalnya dari Akademi Angkatan Udara, Universitas Islam Indonesia, UPN Yogyakarta, dan lain-lain. Dalam hal ini, bagi mahasiswa yang bukan dari UGM terdaftar sebagai anggota luar biasa, yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan anggota biasa hanya tidak mempunyai hak suara dalam MUBES FORKOMMI-UGM

Kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh organisasi bagi anggotanya selain Mubes dan Raker yaitu, Latpinsar (Latihan Kepemimpinan Dasar) dan Galang Akrab. Kedua kegiatan ini merupakan kegiatan rutin tahunan bagi mahasiswa baru UGM guna membekali diri untuk bertahan hidup (survive), berkompetesi, dan beradaptasi terhadap situasi di Yogyakarta. Selain itu ada GMERS (Gadjah Mada Education Road Show) yaitu kegiatan yang mempromosikan Universitas Gadjah Mada kepada pelajar di Sumatera Barat, di samping itu kegiatan ini juga mengadakan try-out bagi pelajar untuk mempersiapkan diri mengikuti ujian perguruan tinggi. Guna mengobati kerinduan akan kampung halaman, FORKOMMI juga menyelenggarakan kegiatan Pulang Basamo, yaitu kegiatan pulang bersama dengan koordinasi organisasi-organisasi masyarakat Minangkabau se-Yogyakarta. Ada juga mengadakan seminar-seminar akademis yang berguna untuk menambah wawasan anggotanya.

Makna FORKOMMI Bagi Anggotanya

FORKOMMI, memiliki makna yang sama dari dua mahasiswa Minangkabau yang penulis wawancarai, namun memiliki tujuan yang agak berbeda dari mereka yang bergabung. Informan-informan yang penulis wawancarai berjumlah dua mahasiswa di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada. Dua mahasiswa antropologi yaitu Andri  angkatan 2007 berasal dari Batusangkar, Tanah Datar, Sumatera Barat, ia bersuku Piliang. Satu mahasiswa sastra Inggris, Deri, mahasiswa Sastra Inggris angkatan 2011 dari Bukittinggi dan ia bersuku Guci. Penulis mengobservasi dan mewawancarai mereka perihal organisasi FORKOMMI, maknanya bagi mereka, tujuan bergabung dan peran organisasi etnis bagi anggotanya, terutama yang pernah para informan ikuti.

Makna FORKOMMI sendiri bagi Deri adalah organisasi tempat mahasiswa Minangkabau di UGM. Bagi Deri sendiri awalnya ia bergabung dan terlibat di dalamnya adalah adanya promosi organisasi tersebut pada awal registrasi di UGM. Ia memilih bergabung selain tempat mahasiswa yang seetnis dengan dirinya juga sebagai pelepas rindu akan kampung halaman. Hal ini diungkapkannya dengan penggunaan bahasa Minangkabau yang ia pakai dengan bebas terhadap sesama anggota sebagaimana ia berkomunikasi dengan kerabat dan teman di daerah asalnya. Kegiatan yang pernah ia ikuti adalah GMERS. Menurut penuturan Deri, pada awalnya ia berniat untuk aktif dalam organisasi tersebut, namun karena kurang komunikasi dan jarang berkunjung ke sekretariat FORKOMMI membuat Deri kurang/tidak aktif dalam organisasi itu.

Bagi Andri, mahasiswa antropologi budaya yang berbeda tahun angkatan, menuturkan bahwa organisasi tersebut merupakan organisasi mahasiswa Minang perantauan yang kuliah di UGM. Mereka menuturkan bahwa tujuan ia bergabung adalah mencari saudara dan teman, relasi jika ada suatu kebutuhan dan dukungan. Kegiatan organisasi yang pernah mereka ikuti adalah Latpinsar, GMERS, dan seminar. Menurut Andri, dengan banyaknya orang Minang di kampus UGM dan tergabung dalam FORKOMMI selain dapat menguatkan eksistensi organisasi, juga identitas kultural etnis Minangkabau itu sendiri. Dari pengamatan penulis, mereka memperoleh hasil dari keterlibatannya dalam organisasi mahasiswa etnis itu. Hasil itu ditunjukkan dengan mudahnya mereka beradaptasi di Yogyakarta dan mendapatkan banyak teman seetnis, memperluas jaringan komunikasi dengan masyarakat Minangkabau di Yogyakarta, serta mereka mendapatkan banyak pengetahuan dari berbagai kegiatan yang oleh diadakan.

Analisa

Dari literatur yang diperoleh, saya menemukan tiga teori yang menguatkan alasan mengapa masyarakat yang bermigrasi dari daerah ke kota besar dan membentuk sebuah perkumpulan atau organisasi berbasis etnis dan daerah untuk membangun identitas kulturalnya. Berikut teori pertama dari Roger Bromley yang dikutip: “It is crucial that migrant should be able to find space to construct an identity that can accommodate what he or she once was and is now supossed to be: an identity that is somewhere in-between.” (Roger Bromley, 2000:66). Teori ini menegaskan sekaligus menguatkan bahwa mereka, kaum migran, seperti mahasiswa Minangkabau di Yogyakarta berusaha untuk dapat membentuk identitas kultural mereka di rantau dengan adanya organisasi mahasiswa berbasis etnis. Teori ini kemudian didukung oleh teori dari Tölölyan mengenai diaspora komunitas di luar daerah asalnya. “The traces of struggles over and contradictions within ideas and practices of collective identity, of homeland and nation. Diaspora [the journal] is concerned with the ways in which nations, real yet imagined communities, are fabulated, brought into being, made and unmade, in culture and politics, both on the land people call their own and in exile”. (Tölölyan 1991:3 dalam Roger Bromley 2000:7)

Selain kedua teori tersebut, penulis menemukan sebuah teori yang dikemukakan oleh Usman Pelly mengenai para perantau Minangkabau. Adaptasi mereka, para perantau Minangkabau sangat dipengaruhi oleh adanya suatu “misi budaya” untuk memperkuat identitas kultural (Usman Pelly, 1994: 3). Teori tersebut didukung oleh pernyataan dari salah seorang informan yaitu Andri bahwa identitas kultural mahasiswa Minang di Yogyakarta diperkuat dengan adanya organisasi FORKOMMI tersebut. Menurut penulis ketiga teori diatas berhubungan dan menguatkan alasan kaum migran di rantau untuk mempertahankan identitas kultural mereka dan melakukan pemberdayaan terhadap kelompok mahasiswa yang seetnis.

Kesimpulan

Alasan mencari pendidikan tinggi yang lebih baik di kota besar mendorong generasi muda Minang untuk melanjutkan studinya di kota-kota besar seperti Yogyakarta. Untuk menjalin dan mewadahi komunikasi dan silaturahmi antar mahasiswa Minang di lingkungan kampus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, mereka membentuk sebuah organisasi mahasiswa yang berdasarkan etnisitas. Di antara mereka yang tergabung memiliki pandangan makna dan tujuan yang agak berbeda. Sebagai organisasi mahasiswa etnis Minangkabau di lingkungan kampus UGM dijadikan tempat untuk mencari saudara, teman, relasi, dan dukungan seetnis, serta sebagai tempat untuk melepaskan rasa rindu terhadap kampung halaman dengan cara penggunaan bahasa Minangkabau secara bebas terhadap sesama anggota. Ada peran yang diberikan oleh FORKOMMI kepada para anggotanya dan masyarakat yang diwujudkan melalui acara dan kegiatan. Tiga teori telah menguatkan alasan mereka membentuk sebuah organisasi etnis atau daerah. Teori-teori ini pun tidak hanya berlaku pada kasus organisasi tersebut saja, tetapi juga mungkin pada organisasi-organisasi etnis dan daerah di Yogyakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Daftar Pustaka

Bromley, Roger. 2000. Narratives for a New Belonging. Edinburgh: Edinburgh University Press

Pelly, Usman. 1994. Urbanisasi dan Adaptasi: Peranan Misi Budaya Minangkabau dan Mandailing. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia

Subagijo, W. dan Sindu Galba. 1999. Keberadaan Paguyuban-Paguyuban Etnis di Daerah Perantauan dalam Menunjang Pembinaan Persatuan dan Kesatuan: (Kasus Perantau Etnik Jawa di Tanjung Pinang). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sumber Internet:

ikatanpelajarriauyogyakarta.blogspot.com/ diakses tanggal 5 Januari 2013

asrama.putrariau.com/ diakses tanggal 5 Januari 2013

http://fkppmsy.wordpress.com/category/umum/ diakses tanggal 5 Januari 2013

http://adplawfirm.com/article-pengurus-kepma-bima-%E2%80%93-yogyakarta-mengadakan-mubes.html diakses tanggal 5 Januari 2013 http://trullydailylife.blogspot.com/2012/10/kerap-kali-bantingan.html diakses tanggal 5 Januari 2013

http://rahmatfawzi.com/profil-forkommi-ugm.html diakses tanggal 5 Januari 2013

http://gmers.wordpress.com/about/ diakses tanggal 5 Januari 2013

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.