Mengangkat tema Stranger Kings ini menurut penulis merupakan suatu hal yang sangat menarik. Teori yang dikemukakan oleh Marshall Sahlins ini apabila kita teliti dan analisa terhadap apa yang terjadi di Indonesia ternyata banyak mengungkap fakta sejarah sosial budaya. Termasuk kasus yang diangkat yaitu raja-raja Cirebon pada masa Islam. Keunikan Cirebon dengan identitas kultural etnisnya menjadi faktor mengapa penulis tertarik memilih studi kasus ini. Riset dalam tulisan ini menggunakan studi literatur yang ada dan relevan untuk memperoleh data yang absah serta terhindar dari subjektivitas daerah atau primordialitas. Tulisan sederhana ini berisi analisis-deskriptif terhadap sejarah “stranger kings” raja di daerah tersebut, bagaimana sebab-sebab kehadiran sang raja dikaitkan dengan teori dari Marshall Sahlins ini. Tulisan ini akan banyak memfokuskan pada masa raja Cirebon hadir di era Islam berkembang pesat. Hal ini dikarenakan sejarah Cirebon masa Hindu-Budha masih samar-samar dan sumber literatur yang penulis temui cukup terbatas. Agama dan politik nantinya, nyata menjadi dua faktor yang erat dikaitkan dengan kehadiran raja atau penguasa di wilayah pantai utara Jawa Barat ini.

Deskripsi Singkat  Fase Sejarah Kerajaan di Cirebon
Menurut sumber sejarah, di Cirebon terdapat kerajaan-kerajaan daerah bercorak Hindu-Budha. Kerajaan-kerajaan itu adalah kerajaan Indraprahasta, Wanagiri, Purwasanggarung, Japura, Singapura, Cirebon Girang, dan Surantaka. Manuskrip yang memuat sejarah Cirebon pada masa Hindu-Budha ini ditulis oleh Pangeran Wangsakerta pada 1604 Saka atau 1682 Masehi dalam Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa I ((Ruhimat, 5:2008).
Menurut Carita Purwaka Caruban Nagari, diceritakan bahwa ada tiga putra Prabu Siliwangi dari pernikahannya dengan Ratu Subanglarang, putri Raja Singapura. Mereka adalah Pangeran Walangsungsang, Nyai Lara Santang, dan Raja Sengara. Setelah ibu mereka meninggal, Ratu Subanglarang, Pangeran Walangsungsang dan Nyai Lara Santang meninggalkan istana Pajajaran untuk mencari ilmu agama yang sejati. Singkat cerita mereka mengembara ke berbagai daerah hingga akhirnya mereka datang ke Cirebon. Mereka berguru agama Islam kepada Syekh Datuk Kahfi di Gunung Amparan Jati atau Gunung Jati sekarang. Syekh Datuk Kahfi ini ialah pendatang dari Bagdad yang datang ke Cirebon untuk menyiarkan Islam. Setelah berguru selama tiga tahun kepada Syekh Datuk Kahfi, Pangeran Walangsungsang diberi nama Ki Samadullah dan diperintahkan oleh gurunya untuk mendirikan pedukuhan di Kebon Pesisir yang terletak di sebelah selatan gunung Amparan Jati. Setelah menebang hutan belukar, Pangeran Walangsungsang atau Ki Samadullah ini mendirikan gubug dan tajug disana. Inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Cirebon saat itu. Atas saran dari Syekh Datuk Kahfi, Pangeran Walangsungsang dan Nyai Lara Santang berangkat menunaikan haji di Mekkah. Selama di Mekkah, keduanya tinggal di pondok Syekh Bayanullah, adik Syekh Datuk Kahfi dan berguru kepada Syekh Abuyajid.

Di Mekkah, Nyai Lara Santang diperistri oleh Maulana Sultan Mahmud atau yang disebut Syarif Abdullah, raja Mesir. Setelah menjadi istri Maulana Sultan Mahmud, Nyai Lara Santang diberi nama Saripah Mudaim, dan kakaknya, P. Walangsungsang bergelar Haji Abdullah Iman. Pada waktu Nyai Lara Santang mengandung sembilan bulan, ia bersama kakaknya pergi ke Mekkah. Di Mekkah, Nyai Lara Santang atau Saripah Mudaim ini melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Syarif Hidayatullah. Sejak kelahiran itu, mereka kembali ke Mesir. Hampir selama tiga bulan di sana, Pangeran Walangsungsang atau Haji Abdullah Iman akhirnya kembali ke pulau Jawa, ke Cirebon. Ia menyiarkan Islam di sana dan membangun tajug atau langgar Jelagrahan dan sebuah rumah besar, bersama istri dan putrinya, Nyai Pakungwati dari Nyai Indang Ayu, ketika ia mengembara. Pangeran Walangsungsang kemudian menikah dengan Nyi Retna Riris, putri Ki Gedeng Danusela yang bergelar Ki Gedeng Alang-Alang, orang telah lama tinggal di pesisir Cirebon sebelum kedatangan Pangeran Walangsungsang. Dukuh yang yang dibangunnya bertambah ramai, dan banyak warga masyarakat berpindah ke daerah itu untuk berdagang dan menangkap ikan. Ki Gedeng Alang-Alang dipilih menjadi sebagai kuwu pertama (kuwu berarti kepala sebuah desa). Sedangkan Pangeran Walangsungsang ditunjuk sebagai pangraksa bumi dengan gelar Ki Cakrabumi. Setelah tiga tahun, Pangeran Walangsungsang tinggal di daerah itu, nama pedukuhan itu berubah menjadi desa Caruban Larang karena desa tersebut tinggal berbagai bangsa dengan agama, bahasa, tabiat, dan juga pekerjaan yang berbeda (Wildan, 2003: 28). Setelah Ki Gedeng Alang-Alang wafat, Pangeran Walangsungsang menggantikan kedudukannya dan bergelar Kuwu Carbon II. Namun, setelah Ki Jumajan Jati, raja Singapura wafat, Pangeran Walangsungsang tidak meneruskan tahtanya. Ia mewarisi harta kekayaannya dan digunakan untuk membangun istana Pakungwati dan menyusun angkatan bersenjata.

Syarif Hidayatullah yang tumbuh menjadi pemuda yang saleh di Mesir. Atas saran ibunya, Nyai Lara Santang, Syarif Hidayatullah pergi ke pulau Jawa untuk menemui pamannya, Pangeran Walangsungsang di Cirebon. Syarif Hidayatullah singgah dahulu di Banten untuk menyiarkan Islam, lalu kemudian ia menikah dengan Nyi Kawunganten, adik bupati Banten. Dari pernikahannya lahir dua orang anak, seorang perempuan bernama Ratu Winaon dan seorang laki-laki bernama Pangeran Sabakingkin atau Pangeran Hasanudin, kelak menjadi Sultan Banten pertama. Oleh pamannya, Syarif Hidayatullah diberi gelar tumenggung negeri Cirebon dengan gelar Susuhunan Jati. Kemudian, Syarif Hidayatullah ini menggantikan kedudukan pamannya menjadi raja, sekaligus terus menyiarkan Islam di Cirebon dan tanah Sunda.

Dua tokoh Stranger Kings, raja Cirebon
Dari penjelasan singkat sejarah dua tokoh perintis raja-raja Cirebon dapat kita temukan dua nama tokoh sejarah Cirebon yang datang ke wilayah tersebut. Mereka adalah Pangeran Walangsungsang/Ki Samadullah atau Pangeran Cakrabuana dan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Banyak sumber-sumber sejarah yang dapat dijadikan referensi untuk menjelaskan biografi perjalanan hidup kedua tokoh tersebut, di antaranya Carita Purwaka Caruban Nagari yang ditulis oleh Pangeran Arya Carbon, Babad Tanah Sunda, Babad Cerbon, Carub Kanda, Sajarah Cirebon, Wawacan Sunan Gunung Jati, dan lain-lainnya. Kedua tokoh ini menjadi toko sentral dalam cerita sejarah Cirebon pada awal penyebaran agama Islam. Cirebon pada abad ke 15 yang merupakan pelabuhan yang ramai didatangi oleh Pangeran Walangsungsang dan adiknya, Nyi Lara Santang, untuk melanjutkan pengembaraannya mencari ilmu agama. Akibat hubungannya yang baik dengan penguasa setempat dan perkawinannya dengan putri dari penguasa itu, akhirnya ia dapat menjadi pengganti kekuasaan di wilayah tersebut hingga akhir hayatnya. Pada suatu ketika, Syarif Hidayatullah yang dari Mesir dan juga merupakan putra dari raja Mesir, Syarif Abdullah atau Maulana Sultan Mahmud, datang ke Cirebon menemui pamannya. Karena telah memiliki kemantapan ilmu termasuk ilmu agama, akhirnya Syarif Hidayatullah dipercayakan menggantikan kedudukannya sebagai penguasa Kesultanan Cirebon. Kesultanan ini berdiri pada tahun 1479 Masehi, dengan tidak mengirimkan upeti lagi ke kerajaan pusat, Pajajaran. Dan saat itu Cirebon memproklamirkan kemerdekaannya, sementara Demak baru berdiri setelah jatuhnya Majapahit pada taun 1517 Masehi (Sulendraningrat, 1978:15).

Datangnya kedua tokoh ini ke wilayah tanah Cirebon bersamaan dengan dibawanya agama Islam, walaupun sebelum kedatangan Pangeran Walangsungsang pun, Islam telah lebih dahulu disebarkan oleh pendatang dari Bagdad (Syekh Datu Kahfi). Apabila dari pengamatan dan penelurusan penulis terhadap sumber-sumber literatur mengenai sejarah ini, kedua tokoh ini dengan tokoh sejarah Cirebon pasca kedatangan mereka memiliki hubungan kerabat, baik hubungan perkawinan atau hubungan darah. Syarif Hidayatullah yang kini dikenal sebagai Sunan Gunung Jati merupakan raja sekaligus penyebar agama Islam yang sangat besar peranannya untuk mengembangkan kerajaannya dan menumbuhkan pengaruh-pengaruh terhadap kerajaan-kerajaan yang belum Islam di sekitar Cirebon saat itu. Dari banyak sumber-sumber sejarah Cirebon, dengan kebaikkan dan kearifan yang dimiliki oleh beliau ini, banyak masyarakat di sekitarnya dan kerajaan-kerajaan yang tunduk pada kekuasaannya. Meskipun banyak yang menyadari bahwa Syarif Hidayatullah ini berasal dan lahir di Mesir. Namun begitu, sang ibu, Nyai Lara Santang adalah tetap merupakan putri Pajajaran yang memeluk Islam dan tinggal lama di Mesir. Syarif Hidayatullah pulalah yang mengangkat putranya, Pangeran Sabakingkin atau Pangeran Hasanudin, menjadi sultan Kesultanan Banten pertama (Muhaimin, 2006: 8). Pada tahun 1526 Masehi ini, Syarif Hidayatullah membangun daerah protektorat Kesultanan Banten, dengan sultan pertama adalah putranya sendiri. Setelah wafatnya Syarif Hidayatullah pada tahun 1568 Masehi, barulah Banten merdeka dan berdaulat dari Cirebon (Sulendraningrat, 1978:19).

Analisis Teori Stranger Kings dari Marshall Sahlins
Dari berjudul The Stranger Kings of Sikka (2010) yang ditulis oleh E. Douglas Lewis, menyiratkan pula tentang kedatangan raja dari tanah seberang yang memiliki kedaulatan di tanah Sikka, Nusa Tenggara Timur. Buku ini penulis rasa merupakan buku sumber yang cocok untuk menganalisa kasus raja Cirebon ini. Di dalam buku tersebut, Lewis menyimpulkan teori Stranger Kings dari Marshall Sahlins menjadi dalam bentuk poin-poin. Selain itu, Lewis juga menambahkan dua teori dari Sahlins pada pemerintahan Fiji ini untuk contoh yang terjadi di Sikka. Berikut kesimpulan identifikasi teori Sahlins oleh Lewis.
1. Martabat raja membuat penampilannya dari masyarakat di wilayah itu. Pada awalnya orang asing dan terkadang dengan teror. Raja menyerap dan mengatur masyarakat asli yang berjalan melalui simbol-simbol kematian dan menganggap kelahiran kembali dewa setempat
2. Kekuasaan, secara khas ditemukan pada praktek barbarisme, pembunuhan, inses, atau keduanya.
3. Kekuasaan tidak direpresentasikan sebagai kondisi intrinsik sosial. Ini lebih kepada perebutan atau perampasan kuasa. Satu konsekuensi dari perebutan kuasa ini adalah adanya kekacau-balauan
4. Raja asing itu melakukan pengaruh besar sekali melawan masyarakat, dia sangat kuat dan pemerintah mengasilkan sistem yang kacau. Mengikhtisarkan konstitusi inisial dari kehidupan sosial, pencapaian raja adalah demikian membuat dirinya sebagai kedatangan dewa.Dari deskripsi kesimpulan singkat teori di atas, Lewis menambahkan dua teori yang berkaitan dari Stranger Kings ini
5. Dia, cikal bakal raja asing itu adalah korban dari kecelakaan di lautan, ia bertahan dan datang ke darat, di sebuah pulau, kemudia ia,
6. menikah dengan seorang putri dari kepala daerah asli lokal di sana (Sahlins dalam Lewis, 2010:118)

Berangkat dari teori di atas, kemudian dianalisa dengan sederhana terhadap kasus kedua raja Cirebon. Dari sejarah Cirebon yang penulis gunakan dalam tulisan ini, kedua raja Cirebon, Pangeran Walangsungsang/Pangeran Cakrabuana dan Syarif Hidayatullah, perihal kedatangannya dan proses menjadi raja di sana ternyata lebih mengarah pada teori yang ditambahkan oleh Lewis, walaupun ada sebenarnya kesinambungan teori dari Sahlins. Kedua raja Cirebon itu datang ke Cirebon bukan karena ada tragedi yang menimpa mereka sehingga mereka terdampar di Cirebon. Melainkan mereka datang ke Cirebon untuk mengembara, mencari ilmu agama, kemudian menetap, dan menyebarkan agama Islam di sana. Pangeran Walangsungsang/Pangeran Cakrabuana atau Ki Samadullah ini dengan mudah menjadi penguasa Cirebon menggantikan Ki Gedeng Alang-Alang karena ia telah membantu mendirikan dan menata pedukuhan di Cirebon. Selain itu, ditambah pula ia menikah dengan putri Ki Danusela atau Ki Gedeng Alang-Alang yaitu Nyai Retna Riris atau Nyi Kencana Larang (Wildan, 2003:28). Ternyata hal tersebut sesuai apa yang ditambahkan oleh Lewis bahwa “Stranger Kings” itu dapat menjadi raja di daerah lain apabila ia menikah seorang putri dari kepala daerah lokal asli di sana. Pangeran Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana ini memang dapat disebut sebagai putra raja Pajajaran yang datang ke wilayah Cirebon yang memang saat itu masih dibawah kekuasaan Pajajaran. Beliau menata pedukuhan, mencari ilmu agama, dan menyebarkan Islam. Peran ini kiranya yang menjadikannya diangkat raja oleh Prabu Siliwangi, ayahnya, lalu diberi gelar Sri Mangana. Pangeran Cakrabuana ini tidak melakukan penaklukan, kekerasan, dan pembunuhan untuk menjadi raja di wilayah ini, namun karena perannya, perkawinan, dan hubungan darah dengan Prabu Siliwangi. Boleh dikatakan bahwa kedatangan beliau ini dalam suasana damai, tidak ada pertumpahan darah. Sebagaimana Sahlins menyatakan bahwa raja asing itu hadir. Kemudian juga, Pangeran Cakrabuana ini tidak dianggap dewa oleh masyarakat setempat, mengingat saat awal kedatangannya, masyarakat Cirebon masih menganut agama Hindu.

Mengenai tokoh yang kedua, yaitu Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati ini juga hampir sama apa yang dilakukan oleh pamannya. Bedanya, beliau lahir dan besar di Mesir. Sebagai putra raja Mesir, ia datang ke pulau Jawa untuk menemui pamannya yang telah menjadi penguasa di Cirebon. Syarif Hidayatullah juga menikah dengan putri Ki Gedeng Babadan, Nyi Babadan (Wildan, 2003:30). Hingga suatu ketika ia menggantikan pamannya, menjabat sebagai penguasa Cirebon. Kemudian melakukan pemberontakkan terhadap Pajajaran dengan tidak mengirim upeti, walaupun tindakannya ini mendapat reaksi dari kakeknya, Prabu Siliwangi. Dengan demikian, Cirebon terlepas dari Pajajaran dan berdaulat. Ada kemajuan yang diperoleh Kesultanan Cirebon di masa pemerintahannya.
Masyarakat Cirebon yang terdiri dari berbagai suku-bangsa pada masa itu tidak mempermasalahkan adanya “stranger kings” di wilayah mereka. Kedua raja Cirebon itu membawa dakwah dan ilmu agama untuk disiarkan kepada masyarakat setempat. Figur yang ‘kharismatik’ dan pengetahuan agama yang luas menjadikannya mendapat tempat di masyarakat. Tanpa ada kekerasan dan pertumpahan darah seorang “stranger king” pun dapat menjadi raja seperti yang terjadi di Cirebon. Mungkin ada konteks budaya yang berbeda, seperti apa yang telah dipaparkan Sahlins mengenai “stranger king”nya orang Fiji.

Kesimpulan
Pengungkapan sejarah lokal Cirebon yang menarik dengan analisa teori “Stranger Kings” menjadikannya suatu yang dapat menambah pengetahuan kita akan sejarah raja-raja di Indonesia yang nyatanya juga termasuk dalam “stranger kings” dan menarik untuk diteliti. Butuh analisa yang lebih tajam dan kritis dari sumber-sumber literatur yang relevan untuk menjadikan tulisan ini lebih baik lagi. Analisa Lewis terhadap raja Sikka cukup menarik untuk disimak dan dibandingkan dengan sejarah raja-raja lainnya di Indonesia. Siapa tahu kedepannya ada tambahan atau perbaikan terhadap teori Sahlins ini, seperti yang telah dilakukan oleh Lewis dengan berkaca pada sejarah raja-raja lokal di Indonesia. Motif agama dan politik senantiasa ‘terbawa’ oleh figur sang raja pada kebanyakkan kisah-kisah raja di Nusantara. Tidak harus adanya jalan kekerasan dan penganggapan dewa oleh masyarakat lokal terhadap raja pendatang yang akan memerintah mereka nantinya. (Adwi N. Riyansyah)

Daftar Pustaka

  • Lewis, E. Douglas. 2010. The Stranger Kings of Sikka.Leiden: KITLV Press
  • Muhaimin, A.G. 2006. The Islamic Traditions of Cirebon: Ibadat and Adat among Javanese Muslims. Australia: ANU Press.
  • Sulendraningrat, P.S. 1978. Sejarah Cirebon. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
  • Tim Peneliti Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa). 2008. Pustaka Rajya-Rajya i Bhumi Nusantara 2.3: Transliterasi Teks dan Terjemahan. Bandung: Disbudpar Jawa Barat, Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga
  • Wildan, Dadan, Dr.H. M.Hum. 2003. Sunan Gunung Jati (Antara Fiksi dan Fakta): Pembumian Islam dengan Pendekatan Struktural dan Kultural. Bandung: Humaniora Utama Press

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.